NEGERI ‘KIRA-KIRA’

“Negeri Kira-Kira”. Setidaknya istilah ini sudah beberapa kali kudengar dari kolegaku yang rata-rata orang Jepang.

Aku mengerti betul apa yang mereka maksud ‘kira-kira’ itu. Bukan berarti kerlap-kerlip dalam bahasa Jepang, tetapi sesuatu yang tidak jelas. Alias mengira-ngira.

Mengapa tiba-tiba aku menulis tentang ini ya? Kebetulan akhir-akhir ini aku punya ‘sparing Coba tengok tulisanku sebelum ini yang berjudul “Rasa-sepi-di-luar-negeri”. Di sana aku ceritakan siapa sparring partnerku itu.

Kembali ke masalah kira-kira, pernah tidak teman-teman perhatikan apa perkembangan yang berarti di depan mata kita. Kalau aku melihatnya begini.

Aku sudah biasa berobat ke RS Borromeus, salah satu RS terkenal di Bandung. Kalau nggak salah baca sering dapat penghargaan di bidang pelayanan kepada konsumen. Sejak kecil aku sudah ke sana. Sekarang usiaku sudah 39 tahun. Sekitar sekian puluh tahun ada saja kejadian yang membuatku ke sana. Mulai dari diriku sendiri yang harus mendapat perawatan, atau besuk orang tua, dan sekarang setelah punya anak giliran menunggui anak-anak ketika mereka harus diopname. Selama itu juga aku melihat rumah sakit ini sangat berkembang.

Meski pun rumah sakit berbasis kristen, tetapi pihak rumah sakit menyediakan layanan rumah ibadah (kalau dalam Islam = mushala) untuk keluarga pasien yang beragama Islam. Makin betah saja konsumen beragama Islam ke sana. Selain karena rumah sakit ini berada di pusat kota.

Tapi bukan masalah itu yang membuat rumah sakit itu ‘kira-kira’. Bukan! Justru yang membuat rumah sakit itu terlihat ‘kira-kira’ ketika kolega Japaneseku berkata begini.

“Bagaimana kita tahu sudah sampai antrian nomor berapa?”

“Biasanya akan dipanggil.”

“Ooo…Padahal coba letakkan saja display nomor di tiap ruang klinik. Pasti lebih mudah dilihat pasien.”

Kebayang nggak hal kecil seperti itu seharusnya sudah terpikir oleh pihak rumah sakit sejak puluhan tahun belakangan ini. Tapi kan tidak ada ya. Kita tetap bertahan dalam budaya tidak tertib, dikit-dikit berdiri dari tempat duduk ketika melihat suster nongol dari ruang klinik dokter. Buat apa lagi kalau bukan bertanya,”Suster, sekarang nomor berapa ya?”

Pertanyaan itu akan kita ulangi ketika tidak terdengar dengan jelas, atau ketika keasyikan ngobrol dengan teman. Kalau ada petunjuk sudah nomor berapa secara otomatis, kita tidak perlu bertanya seperti itu.

Contoh lain ada pada cara membangun.

Dalam kaitannya membangun rumah, aku mendapati dua kekhasan dalam hasil bangunan yang dikerjakan tukang-tukang di tanah air. Yakni, setelah rumah jadi, kira-kira sebulan kemudian akan terlihat retakan dan resapan air di dinding.

“Itu biasa, Bu.” Kira-kira begitu jawaban si arsitek kalau aku tanyakan. Jawabannya benar-benar kira-kira.

Kalau dalam hal ini yang bertanya orang Jepang, pasti mereka tidak terima jawaban seperti itu. Harus selalu ada alasan yang jelas mengapa jadi begini or begitu. Tidak boleh kira-kira. “Itu biasa, Bu” bisa dimaknai “sesuatu yang tidak jelas.” Kenapa harus ‘biasa’? Seharusnya hal seperti itu dihindari benar-benar sehingga konsumen puas. Tapi dasarnya orang kita, selalu nrimo dan memaafkan segala kondisi. LEGOWO.

Menurutku yang paling menonjol dari kehidupan kita adalah kondisi sosial masyarakat yang itu-itu saja. Kemiskinan, kecenderungan mementingkan diri sendiri, puas dengan kondisi apa adanya, kurang pemacu semangat, membuat kita nrimo saja. Makanya nggak ada subway setelah 50 tahun lebih Indonesia merdeka. Kita tetap nrimo. Tingkat derajat kehidupan kita ditentukan oleh kekayaan pribadi. Bukan peningkatan derajat kehidupan secara bersama.

Akhir Desember tahun 2012, aku dan suami sempat main ke Thailand. Duuh miris sekali jika membandingkan Bangkok dan Jakarta.

Jakarta yang sudah sangat dipandang sebagai kota metropolitan di negeri, boleh dibilang masih jauuuuh keren dari Bangkok. Padahal bedanya cuma ada subway train atau tidak! Sebel banget nggak sih?

Bangsa Jepang punya segudang semangat untuk maju. Di pelajaran sejarah jaman SD baheula, atau entah sekarang tetap diajarkan atau tidak, bahwa Jepang adalah negara yang besarnya hanya 1/3 Indonesia. Alamnya tidak sesubur Indonesia. Gempa buminya sering terjadi. Istilah tsunami pun berasalh dari bahasa Jepang itu sendiri. Pasti karena mereka mengalami hal itu lebih sering daripada Indonesia.

Selama tinggal 10 tahun di Jepang, aku melek mengapa orang Jepang itu penuh semangat. Bukan hanya karena hal-hal yang aku sampaikan di atas, tapi juga karena mereka punya musim dingin yang membuat mereka berjuang. Berjuang untuk tetap hidup di tengah hawa dingin. Di situ lahir inovasi sandang, papan, dan pangan.

Aku berdoa semoga teman-teman yang membaca blogku ini, diberi kesempatan oleh Allah swt bisa main ke Jepang. Kalian akan lihat bahwa inovasi hidup itu semuanya ada di sana. Misalnya asinan buah. Kalau di Bogor, asinan buah sejak aku kecil sampai sekarang ya begitu-begitu saja, di Jepang asinan itu bisa jadi tiap tahun berubah bentuk, rasa dan penampilan.

Kita masih saja jalan di tempat.

Jepang maju karena rakyatnya sepikiran. Kita di sini maju sendiri-sendiri.

Aku coba kasih contoh ya. Tahun 2003-an, Jepang dan Korea jadi tuan rumah penyelenggaraan World Cup Soccer (sorry kalau salah tulis, abis nggak hobi bola). Sebelum terpilih jadi tuan rumah, sepak bola di Jepang tidak banyak diminati. Tapi setelah jadi tuan rumah, dan tim nasional Jepang ikut bertanding, aku lihat siapa pun di Jepang berusaha mendukung timnya sepenuh hati. Ada yang jadi volunteer commitee, para nenek dan kakek rajin nonton tayangan pertandingan sebulan penuh, dan paling mencengangkan ketika tim Jepang masuk ke babak final. Bagi orang Jepang, sepakbola bukan olahraga bangsa mereka. Tahu dong sumo dan baseball merajai kancah olahraga mereka. Semuanya jadi berubah ketika banyak karyawan kantoran yang meminta cuti dari kantornya hanya karena ingin mendukung langsung tim Jepang di babak final. Dan tidak tanggung-tanggung, sampai tersiar berita ada satu kantor yang cuti masal untuk itu.

10 tahun tinggal di negeri satu, satu kata yang bisa kuwakilkan untuk menggambarkan orang jepang. Yakni, SERIUS!

SERIUS membangun negeri mereka.

SERIUS dalam bekerja.

SERIUS dalam tiap inci gerak mereka.

JADI mereka paling anti dengan istilah “KIRA-KIRA”

Aku sih nggak mau jadi rakyat ‘kira-kira’. KAMU?Image

Foto ini nggak ada hubungannya dengan judul. Cuma kenang-kenangan anakku Tiara (berleging pink) yang ikutan shooting acara MAKAN BESAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s