RASA SEPI DI LUAR NEGERI

Perasaan sepi tinggal di luar negeri ternyata bukan monopoli diriku saja. Setidaknya itu yang pernah kurasakan ketika masih tinggal di Jepang (1997-2009).

Mulai dari jaman single (199-2004), aku merasa terkucilkan oleh teman-teman sebangsa. Tidak semuanya sih, tapi aku tahu diri. Terkucilkan oleh karena beberapa hal. Misalnya, jika kebanyakan teman-teman seperantauan punya waktu libur di akhir pekan, aku malah masuk kerja (part-time di Restorant & Bakery). Lama kelamaan ya tersingkir juga. Atau karena aku bekerja di restoran sendirian, tidak ada teman sebangsa seperti di tempat lain yang justru bergerombolan. Satu hal lagi yang paling penting kurasakan adalah karena aku bermobil dan lebih banyak berteman dengan orang Jepang.

Lalu setelah menikah dan memiliki anak, bukan berarti punya teman banyak sesama ibu yang beranak. Boro-boro! Kebanyakan ibu-ibu Indonesia bekerja part-time, atau bersekolah di jam-jam aku malah bengong di rumah menemani para buah hatiku. Atau ketika aku berusaha membukan ‘channel’ dengan para ibu Jepang, tetangga yang biasanya berkumpul setiap rabu pagi, aku tetap tidak bisa lebur dengan mereka.

Perasaan terkucil itu ternyata kini dirasakan seorang teman berkebangsaan Jepang. Suaminya bekerja di Indonesia. Temanku ini berencana untuk menetap di Indonesia menemani suaminya. Tapi siapa yang menyangka jalan hidup seseorang yang ‘baik hati’ malah penuh aral melintang.

Berkenalan dengan Yumiko-san (bukan nama asli), bagiku seperti bertemu teman lama. Nggak perlu banyak basa-basi, aku rasa kami langsung cocok. Meski pun usia kami terpaut banyak. Aku baru 39, dan dia mungkin sudah 50-an.

Yang menautkan kami hanyalah bahasa Jepang. Selain itu suaminya adalah muridku. Tapi itu bukan berarti segalanya.

Yumiko-san bisa menjadi dirinya di depanku. Mau marah kek, mau ketawa kek, bebas. Aku pun begitu. Bahkan kami pernah tertawa-tawa sampai ‘terguling-guling’ sangking lucunya. Padahal kami intens bertemu baru 1 atau 2 kali.

Tapi sedihnya, tiba-tiba dia bilang tidak jadi tinggal terus di Indonesia. Atasan suaminya ternyata tidak suka dengannya! Aneh memang. Kehadirannya di Indonesia sering menjadikan ‘taring dan tanduk’ si bos keluar. Tega banget ya! Apa coba urusan istri staf si bos dengan si bos itu sendiri? Harusnya nggak ada dong! Kecuali kalau si suami bermasalah.

Si bos yang tidak menyukainya dengan alasan yang tak jelas, akhirnya membuat keputusan yang membuatku geleng-geleng kepala. Dia dan suaminya dimutasikan kembali ke Jepang.

Lucunya, aku kenal dengan bos si suaminya itu!

Lebih sedihnya lagi, karena ketidaksukaan si bos (power harrasment) kepada temanku ini, membuat para warga Japanese di sekitarnya pun ikut-ikutan menjaga jarak. Dia tidak boleh ikut klub orang Jepang, karena pakai visa turis (bukan visa menetap). Dia dikucilkan.

Yang membuatku salut adalah pola berpikirnya yang tidak ambil pusing dengan kondisi ini. Bahkan dia memberanikan diri naik turun angkot kemana pun dia suka. Ini terpaksa dia lakukan karena si bos tidak memperbolehkan suaminya pakai mobil kantor untuk mengantar jemput si istri selama datang ke Indonesia. Padahal ya, si bos melarang para karyawan Japanesenya untuk naik angkot apalagi taksi. Kata mereka, itu perbuatan yang mengundang bahaya.

BAHAYA dari mana ya?

Mungkin kecocokkanku dengannya tidak lebih dari pola pikir kami yang cuek, itu sama.

Besok dia minta diantar ke rumah sakit karena demam tinggi. Padahal dia harus konsentrasi mengemas-ngemas barang untuk kembali ke Jepang di penghujung bulan maret ini.

RASA SEPI DI LUAR NEGERI itu ternyata bukan monopoli diriku.

Apa yang bisa kulakukan untuknya adalah menemaninya. Menjadi teman yang baik baginya. Agar dia tak perlu merasa kecil hati karena dimutasikan tiba-tiba.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s