The Journey of Bangkok, Thailand-2

penampakan sisi Don Muang Airport

Alhamdulillah akhirnya kami sampai di Bandara Don Muang, Thailand. Menurut cerita suami yang rajin membaca buku panduan travelling ke Thailand yang kami beli, bandara internasional ini sudah lama ditinggalkan. Kini berganti ke Bandara Suvarnabhumi (baca Suwarna-poom). Namun kabarnya bandara baru itu sudah terlalu melampaui kemampuanya menerima jumlah penerbangan dari Bangkok ke luar negeri atau sebaliknya.

Ketika pesawat mulai menukik, tampak jelas pemandangan kerlap-kerlip lampu kota. Aku tak yakin apakah itu Bangkok, atau kota-kota lain di Thailand. Kesan pertama yang kutangkap melihat bentuk kota dari ketinggian adalah jalur jalan yang diberi lampu-lampu sepanjang jalan. Sungguh luar biasa. Sempat terpikir, berapa ratus kilometer jalan yang diterangi lampu. Selain itu, tampak petak-petak yang mungkin perumahan, kondominium atau apartemen. Sangat rapi. Sungguh sedap menatap pemandangan itu. Hanya satu kata, KEREN! Mengundang rasa penasaran untuk segera tiba di tanah Thailand.

Jam 20:15 pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Don Muang. Berbeda dengan kesan melihat kota tadi, kali ini aku sedikit ketawa karena bandaranya sepi banget! Tak tampak petugas lapangan. Kabarnya, bandara ini bandara lama yang diaktifkan kembali untuk menampung penerbangan yang sangat banyak. Cemburu juga ya begitu banyak turis yang datang ke Thailand.

Proses dari bagian imigrasi, pengecekan paspor dan visa, hingga mengambil bagasi berjalan lancar. Sudah tak sabar rasanya melihat kota.

DSC01718DSC01719

(foto atas itu aku, yang bawah suami tercinta: Dr. Diky Mudhakir)

Tapi…tapi, ada sesuatu yang membuatku mengernyitkan dahi. Toilet umum di bandara. Awalnya kupikir tidak akan ada masalah dengan ini. Karena kabarnya Thailand lebih maju daripada Indonesia. Aku yakin betul soal kamar mandi tidak seperti toilet umum di tanah air. Ternyata dugaanku salah. Bentuk toiletnya sih sama. Toilet duduk. Karena mengantri, aku tidak sempat mengecek apa pun. Tapi ketika masuk ke bilik toilet, hal pertama yang membuatku kaget adalah warna air di klosetnya KUNING tipis!

Duuuh…berdebar dadaku. Yang terlintas adalah itu air seni dari orang-orang yang sudah masuk ke bilik ini sebelumnya. Kucari-cari gagang keran tambahan. Tidak ada!!! Duuuh, tidak ada pilihan beginiii (merintih). Sebenarnya tisu gulung ada, tapi kan…masak sih???

Terpaksalah aku tidak bersuci setelah pipis. Ya bagaimana lagi? Masak nyelupin tisu itu ke air berwarna kuning tadi. NGGAK MUNGKIN LAH YAW. Cepat-cepat aku keluar dari kamar mandi dan bergegas mencurahkan perasaanku kepada suami. Suamiku geleng-geleng kepala. “Masak sih? Di kloset laki-laki tidak ada masalah.” Wallahu alam.

Bagaimana pun aku sudah trauma dengan masalah itu. Namun, show must go on dong. Lupakan hal tadi, anggap sebuah kesulitan awal di negeri orang.

Bandara ini sangat luas. Meski pun dikabarkan sudah ditinggalkan, namun diaktifkan kembali, bangunannya tidak buruk. Malah bagus, teratur dan modern. Yang paling menyolok mata adalah huruf-huruf Thailand. Asli nggak bisa dibaca! Langsung terasa sedikit kecil hati. Tapi sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku datang ke negara dengan bentuk tulisan dan cara baca yang sama sekali tidak kumengerti. Selain Thailand, aku pernah beberapa kali main ke Seoul.

Perasaan seperti itu memang sangat menantang. Menaikkan adrenalin untuk berani membuka komunikasi dengan penduduk setempat.

DSC01722

Urusan bagasi beres, kami mencari konter servis taksi. Lebih baik meminta tolong ke petugas konter, daripada cari sendiri. Setidaknya mengenai harga taksi, meteran atau tidak, sudah tidak perlu dipusingkan lagi.

Kami tiba di depan konter tersebut. Tinggal beritahukan alamat hotel atau penginapan yang kita sudah booking sebelumnya. Nanti petugas akan menuliskan sesuatu, lalu menyerahkan kepada kita dengan jumlah biaya yang sudah dihitung.

Kami menginap di daerah Pethbury 15 Soi 1, di pusat kota (btw, SOI itu artinya ‘gang’). Dari bandara ke sana menghabiskan waktu 20 menit dan biayanya 300 bat (x 300 rupiah = 90,000 rp) + 50 baht (x 300 rb = 15,000 rp) khusus untuk supir taksi.

DSC01725

(taksi di bangkok itu asyik banget loh, colorfull. biru, hijau, pink, kuning, dan full iklan di bodi mereka. oya, angkot di Bangkok nggak ada loooh)

Supir kami bernama Shinei. Baikkk sekali. Dia banyak memberikan keterangan tentang kondisi kota Bangkok. Bahasa Inggrisnya kacau banget, sulit ditangkap, tapi keramahtamahannya itu membuat kami bertiga-aku, suami dan Shinei-malah bisa terpingkal-pingkal mendengar penjelasannya.

WHAT A GREAT EXPERIENCE!

Lalu aku menikmati perjalanan dari jendela taksi. Sepanjang perjalanan, aku melihat beberapa baliho raksasa yang menampilkan foto Raja mereka. Lihat foto di bawah ini. Raja  Bhumibol Adulyadej dan permaisuri, Ratu Srikit. (Foto: Sakchai Lalit/AP).

Selain itu aku juga melihat sebuah WAT (shrine/temple) yang Masya Allah ‘bling-bling’. Sesuatu banget (ups!)

Akhirnya, kami tiba di hotel CENTER POINT di Pechtburry road. Hotel yang bagus, tepat di pusat keramaian dengan biaya per malam 1,2 juta rupiah. Kebetulan suami bisa booking ketika sedang diskon 50%.  Sepanjang masuk ke depan hotel, banyak sekali tukang pijat. Bahkan saling berjajar. Pemandangan ini mengingatkanku pada toko pijat dan salon yang juga sama banyaknya di Legian, Bali.

Kami sempat bersalaman dengan Shinei, sang supir taksi yang baik hati dan ramah. “Welcome to Thailand” ucapnya sebelum berlalu.

DSC01727

(paling kiri dari belakang: suamiku. lagi check-in hotel. terus terang aku nguping pembicaraan suamiku ama resepsionis-mannya, bahasa inggris mereka sulit dimengerti)

Urusan koper sudah diletakkan petugas hotel di lobi. Suamiku mengisi formulir, memperlihat paspor untuk difotokopi, membayar deposito 5000 baht ( x 300 = 1,500,000 rp) dan kami menerima kunci.

DSC01728

(suasana lobi hotel. Per malam ratenya 1,2 juta rupiah, tapi karena diskon 50% ya enak deh…)

Petugas yang mengantar kami ke kamar seperti seorang angkatan darat. Pakaiannya itu, tidak seperti seragam hotel. Pembawaannya lembut sekali, sampai suamiku suuzon dia b***i (hihihi). Yang lebih lucunya lagi si petugas hotel (bell boy kali yeee), suka menekan-nekan tombol lift dengan kasar. Dipikir-pikir apa tidak cepat rusak kalau diperlakukan begitu. Kami dapat kamar di lantai 12.

Alhamdulillah…bisa istirahat juga deh.

Btw, untuk komunikasi dengan anak-anak yang kami tinggalkan di rumah (ditunggui khadimat kami Bu Tati, dan dibawah pengawasan Nenek, Kakek, para om dan tante yang tinggal berdekatan dengan rumah baru kami) adalah menggunakan WhatsApp. Si sulung, Alma (5 tahun) sudah kami training cara pakai fitur WhatsApp sebelum kami berangkat ke Thailand. Subhanallah, komunikasi kami lancar.

fasilitas kompor, microwafe juga ada. ini cucok bagi yang takut nggak bisa nemu masakan halal di jalanan.

fasilitas kompor, microwafe juga ada. ini cucok bagi yang takut nggak bisa nemu masakan halal di jalanan.

contoh kamar yang kami tempati: bednya

contoh kamar yang kami tempati: bednya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s