The Journey of Bangkok, Thailand-1

me in thailand (belakangnya rumah makan halal MAK YAH)

me in thailand (belakangnya rumah makan halal MAK YAH)

Tanggal 21-12-2012 adalah tanggal istimewa buatku. Bukan seperti beberapa selebriti yang melahirkan  atau menikah pada tanggal unik yang mengandung angka 1 dan 2 di penghujung tahun 2012 ini, kali ini aku berkesempatan menginjakkan kaki ke Bumi Ayutthaya-Thailand.

Berangkat dari Kota Bandung, aku menggunakan jasa travel Cititrans yang langsung mengangkut para penumpang ke Bandara Soekarno Hatta (Soetta). Perjalanan di mulai dari jam 9:45 dan tiba di Bandara Soetta jam 13:45. Selama melaju, tidak terjadi kemacetan berarti meski pun hari itu hari Jumat alias weekend.

Terminal yang Penulis tapaki adalah Terminal 3 untuk International Flight. Tempat baru yang lebih keren, berciri khas modern-beda sekali dengan terminal 2 yang sangat mengindonesia.

Pertama yang dilakukan adalah check in masuk ke bangunan terminal pemberangkatan. Meski pun waktu penerbangan baru akan dilakukan pada jam 16:45, tetapi ternyata tidak menjadi masalah check in terlebih dahulu.

Begitu memasuki gedung pemberangkatan, satu kata yang bisa Penulis keluarkan adalah “WOW” (tidak pakai koprol). Sejak kecil, Penulis yang terbiasa naik pesawat, terbang mengikuti orangtua yang selalu pindah-pindah kota karena kepentingan dinas, mereka kagum dengan kemajuan yang telah diperlihatkan di salah satu sisi Bandara Soetta.

Terminal 3 sangat luas, modern, nyaman, langit-langit tinggi dengan struktur bangunan yang kokoh oleh tiang-tiang besi membuat masyarakat Indonesia pengguna jasa penerbangan pasti menarik napas lega. Yaa, setidaknya Indonesia semakin berbenah diri dan mempersolek diri dengan terminal baru ini.

Penulis tidak mengalami kesulitan dalam pemeriksaan ketika check-in. Proses pemeriksaan barang-barang  dilakukan dengan mulus, begitu juga ketika pemeriksaan ‘pre-book and baggage drop’ di counter Air Asia berjalan mulus. Total berat barang yang dibawa seberat 20,8 kg. Kelebihan 800 gram dari ‘online booking baggage weight’ yang telah Penulis pesan.  Meski pun berlebih 800 gram,  Alhamdulillah tidak kena charge tambahan. Ketika antri untuk menimbang barang, Penulis melihat pemandangan sepasang pria wanita yang sedang ‘melantai’.  Keduanya tampak sibuk mengeluarkan isi koper. Ternyata mereka over-weight banyak dan mungkin tidak mau membayar kelebihan.  Pada akhirnya, si pria menimbang ulang kedua suitcase milik mereka dan memberitahukan petugas terjadi kelebihan sekitar 200 gram. Petugas menyatakan tidak perlu menambah kelebihan tersebut.

Proses berikutnya adalah masuk ke bagian gedung. Di dalam gedung yang sangat luas ini, tampak beberapa restoran yang sudah familiar di tengah masyarakat kita. Yakni, J-CO Donat, Circle-K, restoran masakan khas Indonesia, Starbuck Café.

Selain itu ada deretan atm, seperti BNI, Mandiri, Danamon, BRI, BCA, dsb.  Tak begitu jauh dari deretan atm, ada sudut khusus yang akan membuat mata anak-anak terbelalak. Yakni untuk tempat bermain.

Buat yang berjanji bertemu di dalam gedung, papan “MEETING POINT” dan sebuah bangunan kecil berbentuk segitiga bisa dijadikan titik bertemu. Mudah sekali melihat meeting point itu karena terletak di tengah-tengah ruangan. Insha Allah tidak akan tersesat.

Sebenarnya Penulis sudah pernah bepergian ke Negara Ginseng-Korsel, Negara dengan penduduk terbanyak di dunia-China, dan Negara Sakura-Jepang (tempat Penulis pernah tinggal selama 10 tahun), satu hal yang membedakan kecanggihan bandara baru Indonesia ini dengan bandara di negara-negara tersebut adalah suasana bandara Indonesia masih dibilang  ‘bayi yang baru lahir’.

Mengapa Penulis bisa berkata seperti itu?

  1. Terminal 3 ini, masih tergolong sepi oleh deretan toko-toko.
  2. Tidak tertulis adanya DUTY FREE.
  3. Tempat duduk gratis yang minim. Kebanyakan memanfaatkan fasilitas tempat duduk di resto atau café agar bisa beristirahat sejenak. Itu pun bukan gratis.
  4. Zona gate yang masih sedikit, yakni 6 buah.
  5. Fasilitas WIFI yang tidak terkoneksi dengan baik. Termasuk yang membawa modem pribadi pun tidak bisa mengakses internet sambil menunggu panggilan boarding.
  6. Lantai kamar mandi yang masih basah karena sistem toilet duduk tanpa gayung, atau hanya kertas tanpa semprotan air setelah buang hajat. Meski pun pernah hidup di negara Jepang sekian lama, Penulis tetap tidak nyaman kalau membersihkan bagian kemaluan setelah buang hajat hanya dengan tissue. Masih merasa bersyukur kalau ada kran penyemprot tambahan, kalau tidak? Alhasil tisu yang minim tersedia dimanfaatkan untuk dibasahi oleh air yang mengalir dari sisi-sisi dalam toilet. Tentu saja setelah dua atau tiga kali air dialirkan agar tidak tercampur dengan sisa air seni sendiri. Penulis masih sering bertanya, bagaimana cara orang Indonesia lainnya buang hajat dalam toilet yang modern tapi tidak cocok dengan budaya timurnya orang Indonesia. Terutama yang muslim. Bersuci itu harus benar, karena dikaitkan dengan kesucian ketika akan beribadah.

Namun, Penulis senang karena satu hal yang membedakan terminal baru ini dengan Bandara-bandara luar negeri yang pernah Penulis singgahi yakni, kentalnya aura Indonesia lewat satu outlet batik, wayang, dan souvenir lainnya yang sangat berbau-bau Indonesia.

Di terminal ini ada outlet “KERIS” yang sangat menarik perhatian. Karena sangat luas, dan menjual beragam barang-barang khas Indonesia yang sangat bagus penampilannya.

Selain itu, juga disediakan fasilitas nursering. Ini pasti untuk para ibu yang masih memiliki bayi, jadi bisa menyusui dan mengganti popok bayinya kalau sudah kotor.

Setelah menunggu sekitar satu setengah jam, akhirnya Penulis pun  boarding.

Tak lupa Penulis berdzikir ketika tubuh pesawat Air Asia menukik ke udara.

Thailand, I am coming…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s