Cerita dan Buah Tangan dari Medan, Sumatera Utara

Sore ini aku dan suami asyik berbincang-bincang di dapur. Ditemani oleh si sulung Alma (5,10 thn) dan Dzaky (2,4 thn) kami sibuk ngegerenyem. Itu bahasa Sunda yang artinya (kalau tidak salah) “sibuk mengunyah”.

Di meja makan kami ada sisa nasi pagi yang dibawa ke Taman Kupu-Kupu (Cihanjuang-Bandung), pempek yang tidak sempat dimakan di tempat outbond tadi pagi, kripik tempe dan singkong produk Qteela, beberapa potong tahu goreng dan sambal bajak yang puedessnya maknyos banget!

Aku betah mendengar cerita suami yang hari kamis lalu dinas di Medan.

Medan…

Kota itu sangat akrab dalam kalbuku. Masa kecilku pernah kulewati di kota Tarutung, Tapanuli Utara. Sebuah kota kabupaten di Sumatera Utara.

“Opi pernah tinggal di Medan?” tanya suamiku.

Aku menggeleng.”Bukan di Medannya sih, tapi di kota Tarutung. Medan adalah kota transit bagi kami dulu. Sesekali main juga ke kota Medan.”

Ingatannya mulai membuka memori masa kanak-kanakku.

“Ibu dulu sekolahnya jauuuh di atas bukit. Harus jalan kaki setiap pagi. Untung bersama teman-teman, jadi tidak merasa kelelahan dan bosan. ” Kuceritakan hal ini kepada si sulung dan suamiku yang sangat serius menyimak.

“Dari ujung jalan, Ibu akan naik tangga yang seingat Ibu terbuat dari kerukan tanah. Lalu, Ibu dan kawan-kawan naik tangga yang tinggi sekali. Setibanya di atas kami akan duduk-duduk dulu di bawah pohon durian.”

“Haah? Pohon durian? Kenapa nggak diambil saja?” Si Sulung polos berkata.

“Hihihi…kulit durianku tajam, sayang. Tidak mungkin kami mengambilnya. Pohon duriannya tinggi, buahnya bergelantungan.”

“Terus kenapa nggak digoyang-goyangkan saja pohonnya. Kan bisa jatuh buahnya.” Sulung kami ini memang sangat menyimak. Imajinasinya sebagai anak-anak sangat brilian.

“Hehehe, kami masih kecil-kecil. Jadi tenaganya tidak kuat. Nanti kalau jatuh, bisa-bisa buahnya mengenai kepala Ibu.”

Barulah ia mengangguk-angguk.

Kulanjutkan nostalgia masa kecilku di kota yang mayoritas beragama Kristen, dan kami Islam sebagai kaum yang amat sangat minoritas.

“Ibu sekolah di atas bukit itu. Dekat sekolah Ibu ada lapangan luas yang biasanya dipakai sebagai lapangan helikopter (heliped). Kalau ada bunyi helikopter, kami pasti akan berhamburan dari kelas. Ibu pernah loh lihat helikopter mendarat. Sepertinya itu helikopter tentara.”

Mata si sulung membulat. Ia pasti membayangkan helikopter mendarat di dekat sekolahnya.

“Kalau Dzaky sudah pernah lihat pesawat terbang ya, Dzaky!” kata Alma.

“Yah, epawat yah!” Dzaky berkata dengan kocak sambil sibuk mengunyah makanan.

Ya, di rumah kami sekarang sering kali pesawat melintasi langit. Anak-anak, terutama Dzaky selalu stand-by berdiri di pintu dengan kepala tengadah ke langit setiap kali pesawat lewat. Nah, bulan lalu kami berlibur ke Bali, dan Dzaky sampai panik melihat aneka pesawat di lapangan terbang.

Tiba-tiba suamiku berkata,”eh, pai duriannya dimakan yuk! Harus cepat dimakan, paling lama 7 hari sudah dihabiskan.”

Kini giliran mataku yang membulat. “Eh, iya ya. Di mana si pai duriannya ya?”

Cepat-cepat aku berdiri dari tempat duduk dan melangkah ke arah kulkas. Kubuka pintunya dan mengecek di mana oleh-oleh suami dari Medan itu.

“Kok tidak ada ya?” keluhku.

“Oh, Akang taruh di freezer. Harus di freezer.”

“Ooo…”

Benar sekali! Ada kotak yang terbungkus plastik berbentuk persegi panjang. Cepat-cepat kuambil gunting untuk merobek plastik pembungkus.

“Hmm…kok kotor begini sih kotaknya? Seperti pasir terkena siram air.” Aku berpikir.

Ta-taaaa. Maka terbukalah si buah favoritku: DURIAN!

Lalu kami nikmati bersama-sama. Bagi anak-anak inilah pertama kali makan durian, jadi masih tidak terlalu antusias. Mereka antusias karena pancake durian itu dingiiiin. Seperti es!

Setelah coba dimakan satu buah, aku mulai berkata,”ini seperti durian utuh yang didinginkan ya, Kang.”

“Kayaknya begitu. Kata orang Medan yang mendampingi Akang, itu dari buah durian si madu.”

“Oooh, buah durian ada jenis si madunya juga ya. Pantesan manis.”

“Iya. Di sana Akang dan tim diajak makan durian. Awalnya Akang dkk menolak karena sudah kekenyangan. Tapi mereka bersikeras bahkan bilang warung penjual durian itu bisa buka kapan saja. Bahkan midnight pun diladeni kalau ada pembeli.”

“WOW…” Aku kagum sekali.

Teringat masa kecil pergi ke kebun durian. Kami membawa karung goni berlembar-lembar. Sampai di sana, semua pengunjung bebas mengambil durian. Semaunya. Sekuatnya.

Aku, Kakak perempuanku dan adik perempuanku memang lahir dan dibesarkan di Sumatera. Kami terbiasa dengan durian. Berbeda dengan adik bungsuku yang lahir di Bandung, entah mengapa dia paling tidak suka durian.

Selain pancake durian, suami membawa oleh-oleh “Bolu MERANTI” , Sirup MARKISA dan idola oleh-oleh dari Medan yakni BIKA AMBON. Ada yang istimewa kali ini, yakni kacang yang digoreng dengan pasir. Anak-anak tiap hari mengunyah si kacang goreng tersebut.

Hmm…makyos. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s