Mantengin Ilustrator-Ilustrator Keren di Bandung

Siapa yang menyangka kalau kemarin siang saya beruntung bisa melihat langsung para ilustrator-ilustrator keren dan berpengalaman ‘manggung’ di acara PABERS dan FORSID (Forum silaturahiim ilustrator Bandung). Tema mereka manggung siang ini di Landmark Building, Jl. Braga-Bandung adalah “Upaya Menjadikan Bandung Sebagai Kota Ilustrator”.

Awalnya saya pikir, waduh salah ikutan workshop nih! Tapi, wajah saya langsung berbunga-bunga begitu melihat Kang Ale (Ali Muakhir) dan Kang Benny yang wajah dan namanya sudah merajai dunia perbukuan. (jyee, muji dong, ntar saya dipentung lagi!). Hati saya makin berbunga karena beliau berdua begitu ramah kepada Alma dan Tiara, dua putri saya yang ‘dikompori’ untuk ikut Emaknya workshop. Siapa tahu apa yang mereka lihat dan ikuti sekarang akan menjadi cikal bakal lahirnya ilustrator dan penulis dalam keluarga kami (amiiiin).

Ok deh. Tidak penting membicarakan hati saya yang berbunga-bunga. Mari kita simak baik-baik beberapa pertanyaan yang diajukan Kang Ale dan Kang Benny sebagai moderator kepada para artis kita yakni:

1. Kang Iwan Darmawan.

2. Kang Iwan Yuswandi.

* tuh kan, Bandung banget kan? Double Iwan gitu looh.

3. Kang Maman.

4. Kang Ali Muakhir (kayaknya sebagai artis panggung dan moderator juga deh)

Terus terang saya bakal bodoh kalau tidak ikut workshop ini. Coba bayangkan, kita-kita yang dari kecil sudah pernah membaca majalah bobo, yang terkenal dengan Nirmala dan Okinya, ternyata ilustratornya adalah: Kang IWAN DARMAWAN! Beliau sudah 15 tahun berkecimpung dalam bidang ilustrasi, tetapi beliau memilih menjadi freelancer.

Cihuiii, bahagialah saya. Sampai-sampai saya goyang-goyang kedua anak saya yang sekarang pun membaca BOBO.

“Nak, coba lihat yang itu. Namanya Om Iwan Darmawan. Yang gambar tokoh-tokoh di Majalah BOBO loh! Keren kan!”–ups, sayangnya si sulung malah asyik membaca Majalah Sains baru yang dipinjamkan pemilik lapak Penerbit “Kuark International”. hihihihi.

Lalu, Pak mod Benny memperkenalkan seseorang yang mendalangi PELANGI MIZAN dengan ilustrasi-ilustrasinya keren. Selain itu dia adalah editor ilustrasi (nah loh yang nggak masuk daftar pilihannya , sabar nyaaa) di Mizan. Siapa dia? Eng ing eng: KANG IWAN YUSWANDI. Keplok…keplok.

Selain mereka berdua, ada seorang lagi yang ternyata wawasannya sangat luas, begitu juga koneksinya. (Hus, bukan KKN loh). Dia seorang akademisi di STISI TELKOM  Bandung dan pemilik usaha ilustrasi di rumahnya. Beliau adalah : Kang MAMAN (nama belakangnya tidak tahu, tapi untung udah nanya alamat FBnya yakni MAMAN MANTOX). Happynya lagi, beliau kenal dengan sahabat saya seorang pekerja seni juga yakni Ibu ALBERTHA (ahli gerabah-keramik). Kang Maman ini juga seorang konseling untuk proyek pemerintah di bidang animasi dan komik loh!

Sekarang kita masuk sesi tanya jawab ya (ini penting buat para penulis juga).

* untuk penamaan, aku beri inisial KID (untuk Kang Iwan Darmawan), KIY (untuk Kang Iwan Yuswandi), KM (untuk Kang Maman), KA (Kang Ale) dan KB (bukan keluarga berencana, tapi Kang Benny).

* T untuk tanya, dan J untuk jawab ya (biar mengindonesia).

1. (T)

KB: menurut akang-akang semua bagaimana perkembangan buku anak-anak dan ilustrator itu sendiri?

(J)

1.1. KA: menurut saya perkembangan buku bacaan anak-anak itu sangat pesat sehingga dunia ilustrator itu juga tumbuh pesat. Harmonisasi antara penulis dan ilustrator diperlukan untuk menghasilkan buku yang bagus.

2. (T)

KB: Benarkah peluang kerja seorang ilustrator sangat banyak karena penerbit sekarang ini sangat membutuhkan kemampuan mereka.

(J)

2.1. KIY: benar sekali. Tahun ’90 ketika saya bekerja di Mizan belum berkembang seperti sekarang. Saat itu Mizan dianggap ‘berjalan sendiri’ atau kurang pesaing. Sehingga saya masih mampu mengatasi semua ilustrasi. Namun, melihat perkembangan sekarang dimana jumlah penerbit pun bertambah, sehingga kebutuhan ilustrator pun meningkat. Jumlah buku cerita yang memerlukan ilustrator sangat banyak. Misalnya, untuk cerita dongeng fantasi. Diperlukan ilustrator yang mampu mengerjakan bagian itu. Intinya, semakin hari ide-ide cerita untuk anak sangat meningkat, dan itu membutuhkan tenaga ilustrator yang pas.

2.2. KM: Saya sependapat dengan KIY. Memang benar, bahwa kebutuhan tenaga ilustrator meningkat. Ini bisa terjadi karena seorang ilustrator tidak mampu mengerjakan banyak proyek dari sebuah penerbit. Untuk itulah si ilustrator tersebut menghubungi teman-teman ilustrator lainnya. Maka terbentuklah kerjasama di antara mereka. Sayangnya, di bidang akademis peminat untuk mendalami ilmu ilustrasi tidak banyak. Akibatnya , kebutuhan akan ilustrator meningkat tetapi ‘stok’ ilustrator itu sendiri kurang.

2.3. KID: seorang ilustrator jangan pernah puas dengan apa yang sekarang dikuasainya. Terus tingkatkan kemampuan, tingkatkan kualitas hasil kerja dan yang paling utama adalah tingkatkan profesionalitas dalam menangani semua proyek ilustrasi.

3. (T)

KB: Dengar-dengar KID sudah go international. Tidak hanya menggambar untuk kebutuhan negeri lokal, tetapi juga sudah bekerja sama dengan Singapore, Malaysia, Pakistan. Lalu apa kiat supaya bisa go international?

(J)

2.1. KID: (senyum-senyum). Seorang ilustrator yang serius membidani bidangnya pasti akan dicari oleh pihak-pihak (mungkin penerbit maksudnya) luar negeri. Saya pribadi tidak pernah mengirim CV ke pihak mana pun. Tetapi keseriusan kita pasti akan terlihat juga dari karya-karya kita. Biasanya pihak-pihak luar akan memantau kepiawaian kita melalui internet. Selain itu seorang ilustrator tidak perlu berbahasa asing, yang penting kualitas gambar yang dihasilkan cocok tidak dengan pihak luar negeri yang membutuhkannya.

—KB menyimpulkan: benar sekali. Kalau penulis mau go international, dia harus menerjemahkan buku-bukunya. Tetapi kalau ilustrator tidak perlu. Mau di Jepang kek, mau di Amerika kek, kalau ‘GAMBAR’ itu akan tetap seperti yang dihasilkan oleh si ilustratornya. (mengangguk-angguk).

4. (T)

KB: Ada rumor bahwa lulusan desain graphis bisa menghasilkan 1 juta rupiah untuk satu gambar logo yang dibuatnya. Sedangkan seorang ilustrator hanya memperoleh 100 ribu rupiah per gambar. Bagaimana menurut akang-akang?

(J)

4.1. KM : Di Bandung ada 20 Perguruan Tinggi (program S1) yang memiliki jurusan Desain Komunikasi Visual (=ilustrasi). Sekitar 100 orang terjun ke bidang itu.

Apakah seseorang yang bergerak di bidang desain graphis bisa menghasilkan lebih dari seorang ilustrator? Jawabnya, tidak juga. Saya bisa berhari-hari mengerjakan sebuah logo. Tidak semudah itu. Hanya saja, beban mental seorang ILUSTRATOR memang lebih berat. Mengapa demikian, karena untuk lolos seleksi kuliah di bidang ilustrasi pertama harus bisa menggambar. Kedua, setelah lulus belum tentu langsung dapat job (=penghasilan).

4.2. KID: sekali lagi saya himbau bahwa seorang ilustrator jangan puas pada posisinya sekarang. Saya sendiri sudah bekerja sebagai ilustrator di BOBO selama 15 tahun. Dulu, pertama kali melihat BOBO, saya merasa ilutrasi cerita dongeng tidak begitu bagus para pewarnaan. Lalu, saya buat ilustrasi dengan gaya saya. Dengan pewarnaan saya. Tentunya harus lebih baik dari yang sudah ada. Saya kirim ternyata terpakai. Yang ingin saya katakan adalah, SAYA SENDIRI BISA SEWAKTU-WAKTU DIDEPAK DARI BOBO, kalau ada ilustrator lain yang melebihi saya. Jadi, teruslah tingkatkan kemampuan masing-masing.

4.3. KIY: Di Mizan sendiri ada banyak ilustrator. Itu karena adanya regenerasi.

4.4. KM: Seorang ilustrator juga harus meningkatkan kemampuan dibidang sosial (soft-skill). Seperti mengenal aneka budaya, dll sehingga wawasannya menjadi luas dan luwes. Pernah suatu kali kami memberikan job ilustrasi kepada seseorang. Dia bisa melakukannya dengan cepat. Tetapi, setelah diteliti hasilnya, gambar-gambar yang dipakainya seperti stok lama sehingga tidak cocok dengan yang dibutuhkan saat itu. Kredibilitas kerja akan mempengaruhi nama si ilustrator itu sendiri. Kalau hasilnya terlalu tidak ‘fresh’ maka kami juga jadi malas memakai lagi jasa orang itu.  Jadi, seorang ilustrator harus punya intergritas, jangan sampai gambar-gambar lamanya dipakai untuk proyek-proyek baru. Seorang ilustrator juga harus mampu mengenal ciri khas sebuah penerbit/media yang memakai jasanya. Kalau bisa, gambar yang diberikan kepada penerbit A, beda dengan penerbit B atau seterusnya. Sehingga timbul kekhasan pada setiap gambarnya (itu yang IDEAL ya, Kang!).

4.5. KIY: Sebenarnya ada program magang ilustrasi di Mizan, tetapi maaf pakai selesksi. FORSID sendiri sedang membentuk komunitas ilustrator, tetapi sudah mandeg hanya karena kebingungan maka pakai logo buatan siapa? (semua ilustrator sih ya. Pasti merasa karyanya paling OK, dong! hahaha). Saya salut kepada KM yang paling mampu mengatur para ilustrator yang banyak maunya (menunjuk Kang Maman sambil ketawa lagi).

Ada saran dari KIY: bahwa jangan mencekik seorang ilustrator, nanti bisa lari dia dari pekerjaan yang baru diamanahkan. Tetapi jangan juga terlalu memanjakan ilustrator, nanti malah tidak selesai.

Nah, teman-teman. Sampai di sini dulu ya laporan pendengaranku siang kemarin. Maaf tidak bisa memuat semua hasil pembicaraan karena mau saya olah jadi artikel. Siapa tahu bisa tembus Koran PR. Btw, kalau ada yang mau sharing info di atas ke media mana pun, please sebutkan sumbernya ya.

Mohon maaf sebelumnya kepada para Akang yang kemarin manggung. Siapa tahu ada catatan saya yang salah. Maklum, sambil mendengar sambil nulis.Kalimat di atas semuanya saya ramu ulang. Semua tulisan juga saya rekam. Tapi nya kitu, sambil ngasuh dua anak jadinya isi rekaman juga memuat rengekan mereka (hahaha).

Sekian dan terima kasih bagi yang mau membaca uraian malam tadi.

Penulis 

2 thoughts on “Mantengin Ilustrator-Ilustrator Keren di Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s