SEPATU YANG SELALU KEBESARAN

(cerita ini diikutsertakan pada audisi buku Nourabooks dengan subyek :SEPATU DAHLAN)

SEPATU YANG SELALU KEBESARAN

Oleh: Ellnovianty Nine

Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu terus mengintip teman-temannya yang sedangberlarian di halaman belakang sekolah. Ia berdiri di dekat pintu besi yang biasanya dilalui anak-anak jika ingin bermain di halaman belakang ini. Halaman itu biasanya dipakai untuk berbagai kegiatan. Biasa dipakai sebagai lapangan upacara setiap hari Senin. Pada hari-hari lain, bisa menjelma sebagai lapangan bermain sepak bola, latihan pramuka, latihan PKS (patroli keamanan sekolah) atau sekedar tempat anak-anak bergerombol menghabiskan jam istirahat.

Bocah itu menelan ludahnya. Betapa menyenangkan berlari-lari di luar sana. Mengejar bola, lalu diumpan kepada teman setim. Ahh…Bocah itu menatap kakinya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kakinya.Tungkai kakinya panjang. Ia tergolong bertubuh tinggi di antara teman-teman sekelasnya. Cocok sebagai pemain bola atau pemain basket.Tetapi ada sesuatu yang menghambatnya di situ. SEPATUNYA!

“Dik! Hayo ikutan. Kurang pemain yeuh!” Tiba-tiba saja pundaknya ditepuk.

“Tapi…” Duuh, keinginannya sudah kuat untuk berlari. Bergabung dengan tim kelasnya, tetapi ia ragu karena sepatunya.

“Ntong tapi tapian. Buruan!” Lengannya ditarik begitu saja. Hampir saja dia terjungkal. Belum apa-apa sepatu itu sudah mulai berbuat ulah.

Priiiit, mulai!

Bola berwarna merah putih mulai menggelinding lagi. Ada semangat yang mulai menjalari tubuhnya. YOS! Kakinya mulai mengejar bola tadi. YUP! Berhasil terjangkau. Digiringnya bola pelan-pelan. Berusaha melewati kaki lawan yang mengincar. Ternyata gerakannya lincah juga. Ia mulai merasa percaya diri. “

“Dik! Dik, oper kauing . Oper…oper.” Ia mengambil ancang-ancang.

Ini saatnya, tendang!!!

Suiiiiitttt, sesuatu melayang tinggi ke arah temannya yang tadi telah menanti. Mulutnya terbuka, tangannya menutup matanya segera. Bebarapa bola mata penonton dan pemain mengikuti ‘benda yang terbang tadi’. Tetapi BUKAN bola bundar berwarn amerah putih tadi, melainkan SEPATUNYA.

Ooooh. Betapa malunya dia. Sesuatu yang ditakutkan ternyata benar-benar terjadi.

“Wahahaha…” Tawa membahana di lapangan ini. Semua pemain, penonton hampir serempak tertawa. Ada yang memegangi perut sambil terbungkuk-bungkuk, sangking merasa lucunya. Ada yang melompat-lompat sambil menunjuk-nunjuk dirinya. Sedangkan wajah yang ditutupi tadi, terpaksalah menerima olok-olok itu.

“Dasar sepatu ukuran perahu. Meser atuh nu saukuran kaki maneh . Lain nu badak jiga kaki gajah .”

Huuh. Inilah hal paling memalukan yang terjadi hari ini. Meskipun begitu, anak-anak tim mulai sibuk mencari-cari sepatunya.

“Naha teu aya nya ?” Mereka mulai bingung. Sepatu yang melayang tadi tidak ditemukan di mana pun.

“Jangan-jangan…” Satu dari mereka menyeletuk. Celetukan itu membuat mata yang lain berbinar-binar. Sedangkan mata pemilik ‘sepatu terbang’ tadi makin panik.

“KECEBUR di sungai!” Serempak mereka berhamburan keluar pintu besi. Termasuk bocah laki-laki pemilik ‘sepatu terbang’ yang hilang tiba-tiba itu. Ia terpincang-pincang karena kaki sebelah kanannya tidak bersepatu. Sepuluh anak menyusuri sungai kecil yang ada di belakang halaman sekolah.

Sungai itu tidak lebar, tetapi cukup panjang. Ada air yang bercampur dengan sampah. Air sungai itu berwarna hitam.Warna coklat tanah di dalam sungai itu yang membuat pantulan warna hitam di permukaan air. Juga, mungkin ada sisa-sisa sampah yang mengendap dan sudah berlumut.

Lima belas menit sudah mereka menyusuri panjangnya sungai. Tetapi sepatu itu tidak ditemukan juga. Sepanjang pinggiran sungai dipenuhi dengan tanaman liar dan sangat rimbun.

“Nggak ada euy. Kasihan si Diky. Kepaksa nyeker sebelah. Hahahaha.” Salah satu dari mereka berkomentar. Alhasil, siang itu Diky-bocah yang bersepatu kebesaran itu pulang dengan sepatu pinjaman dari wali kelasnya.

Sebagai anak dari keluarga cukup berada, peristiwa ini cukup meninggalkan bekas di hatinya. Hingga sekarang usianya sudah kepala empat. Bahkan sudah dewasa dan berprofesi sebagai dosen di ITB.

Sejak kecil kebiasaan memakai sepatu berukuran besar itu sudah mendarah daging di antara ia dan empat saudaranya. Semuanya begitu. Entah mengapa Bapak, begitu panggilan kepada sang Ayah, selalu memberikan sepatu dengan ukuran dua nomor lebih besar.

Meskipun sepatu kets dengan tali temali yang kuat, tetapi tetap saja terlihat besar di kakinya. Bukan sekali dua kali ia jadi sasaran ejekan temannya. Sepatu gajahlah. Perahu Nabi Nuh lah. Sepatu pinjaman, dll. Setiap kali diejek, setiap kali pula Ibunya membesarkan hatinya.

“Kata Bapak, kalau beli sepatu dengan ukuran lebih besar bisa dipakai lama. Bahkan sampai kamu lulus SD tidak perlu tukar-tukar sepatu.”Begitu Ibunya selalu menerangkan.

Bapak memang tidak pernah mengajarkan kemewahan pada dirinya. Meskipun mobil mereka dua, hidup di rumah yang cukup besar, tetapi Bapak tidak pernah memberikan apa pun secara berlebihan. Setiap kali Bapak pulang membawa buah tangan, pasti harus dibagi bertujuh. Tetapi lain cerita kalau untuk pendidikannya dan keempat saudaranya.

Bapak siap mengeluarkan uang banyak untuk memasukkannya ke sekolah yang berkelas. Atau ke tempat kursus terbaik yang kabarnya mampu menghasilkan calon-calon lulusan UMPTN dengan target universitas atau institute terbaik di negeri ini. Bapak benar-benar sepenuh hati jika menyangkut biaya pendidikan.

Bapak tidak peduli ketika tahu sepatunya terbang dan hilang di pinggirsungai. Tidak ada tawaran untuk membeli sepatu baru.

“Pakai saja sepatu lama. Atau pinjam sepatu kakakmu yang sudah tidak dipakai lagi.”

Akibatnya, mulai besok ia harus bersepatu yang sudah cukup kumal. Warnanya sudah tidak putih lagi. Ada bagian-bagian yang sudah menguning dan tidak bisa hilang, meskipun sudah dicuci Ibu beribu kali.

Sepatu ‘baru’ yang sudah using itu terpaksalah menemani hari-harinya ke sekolah.

Baru seminggu dipakainya, sudah berkali-kali ia kena teguran para guru.

“Apa tidak ada sepatu yang lain?”

Ia menggeleng.

“Kalau begitu kamu disetrap. Tidak boleh masuk kelas sampai memakai sepatu yang lebih bersih dan pantas.”

Hukuman ini sangat berat dirasakannya. Apalagi ia sudah langganan juara kelas sejak kelas 1. Bahkan kecerdasannya sudah terlihat sejak ia masih berusia empat tahun. Pernah suatu kali ia jatuh sakit hingga harus tidak masuk sekolah sebulan penuh. Tetapi, kedudukannya sebagai bintang kelas tidak tergeserkan. Kenyataan ini membuat semua guru geleng-geleng kepala. Luarbiasa.

“Bu, aku dihukum tidak masuk kelas hari ini.”

“Kenapa?” tanya Ibunya.

“Sepatu ini jelek. Harus pakai sepatu baru kata Guru.”

“Ooo gitu ya.” Sorenya Ibu mengabarkan hal ini kepada Bapak.

Apa jawaban Bapak?

“Masih bisa dipakaikan? Tidak bolongkan? Besok kembali ke sekolah dengan sepatu itu.” Bapak berkata tanpa belas kasihan sedikit pun.

Terpaksalah ia kembali ke sekolah dengan sepatu itu. Lalu, terjadi lagi hukuman tidak boleh masuk kelas. Hampir setiap hari begitu, sampai akhirnya pihak guru yang mengalah.

Tidak ada yang mengalahkan kepintarannya hanya karena sepatu yang kebesaran, atau sepatu berwarna kekuning-kuningan. Lima belas tahun dirinya menapaki jenjang SD hingga SMA, semuanya dengan predikat juara kelas.

Prinsip kesederhanaan bersepatu yang diajarkan Bapak masih terus menyatu dengan dirinya. Ia merasa cukup punya sepatu satu dan tidak akan membeli dulu sebelum sepatu yang ada jebol atau rusak. Bahkan ketika ia berkesempatan melanjutkan pendidikan hingga S3 ke negeri sakura Jepang pun prinsip hidup tidak bermewah-mewah pun secara alami dijalaninya.

Di sana, ia hanya membeli dua jenis sepatu. Sepatu sport yang dipakai ketika musim semi, musim panas, dan musim gugur. Serta yang satunya lagi sepatu anti slip dan anti dingin yang khusus dipakainya selama musim salju.

Kedua prinsip hidup itu kini ditularinya kepada istri dan ketiga buah hatinya.

*Inilah cerita sederhana tentang suamiku, dr. Diky Mudhakir, Dosen Sekolah Farmasi ITB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s