[Cernak Balita Islami] HALAL ITU APA, BUNDA? by Novi Nine

Senyumku terkembang melihat Bunda berdiri di depan pintu sekolah.

“Yeee, Bunda sudah datang. Eh, ada Tiara.”

Bunda tersenyum. “Hallo geulis. Iya, Tiara ikutan. Soalnya Bunda mau belanja sekalian ke Riau Junction.”

Mataku membulat, hatiku riang bukan kepalang. “Asyiiik. Ikut, ikut.” Aku melonjak-lonjak kegirangan. Adikku, Tiara, jadinya tersenyum.

“Ok. Ayo, segera pakai sepatumu. Pamit ke Ibu Guru dan Pak Gilang.”

Dengan bergegas aku menuju rak sepatu kelas Green. Itu nama kelasku. Kuambil sepatu berwarna merah menyala. Hadiah ulang tahun dari Ateu Is, tanteku.

Setelah itu aku menyalami Bu Dewi, Bu Rika, Bu Iis yang ada di dekat pintu sekolah. Mereka sedang sibuk memanggil anak-anak lain yang sudah dijemput orangtua mereka.

Terakhir aku melambaikan tangan kepada Pak Gilang, satpam sekolah yang selalu baik dan ramah kepada anak-anak di sekolahku.

Perjalanan ke Riau Junction sangat menyenangkan. Bunda terus bertanya, apakah aku senang hari ini di sekolah? Apa yang dibuat di sekolah? Main dengan siapa tadi? Habis tidak bekal roti yang disiapkan Ibu tadi pagi? Wuuah, banyak sekali pertanyaan Bunda ya!

Suasana tempat belanja Riau Junction tidak terlalu ramai. Bunda langsung mengambil troli belanja. Tadinya aku mau naik ke keranjang, begitu juga Tiara. Tetapi, dilarang Bunda.

“Hayo, anak-anak manis, jalan kaki ya. Kan sudah besar. Bantu Bunda yuk mencari barang-barang yang mau Bunda beli.” Bunda memperlihatkan kepada kami selembar kertas. Aku baca perlahan-lahan. Oo…ternyata nama-nama sayuran, ikan, dan beras.

“Nah, belanja yang utama sudah selesai. Sekarang giliran makanan untuk anak-anak Bunda.”

“Asyiiik. Aku mau ini.” Tiara sudah sibuk ke sana kemari. Ke rak yogurt dan es krim.

“Hehehe, yogurt boleh tapi es krim tidak ya, sayang.” Bunda langsung menghentikan langkah kaki adikku yang sibuk berlarian.

“Kenapa?” Bibir Tiara langsung manyun. Hihihi.

“Tiara kan masih batuk-batuk. Lagipula belakangan ini, makan tidak teratur. Kalau makannya sudah teratur baru deh kita beli es krim kesukaan Tiara. Ok?”

“Aku juga belum boleh ya, Bu?” tanyaku.

“Iya. Maaf ya. Soalnya semua masih batuk-batuk. Apalagi Kakak, alergi dingin kan. Tetapi, insha Allah sebentar lagi sembuh. Kita sudah bisa makan es krim lagi.”

Aku mengangguk.

“Bunda, ke sini dulu. Mau beli nori dong.” Kutarik tangan Bunda.

Kami bertiga berdiri di depan nori. Makanan Jepang yang berbentuk persegi empat dan berwarna hijau tua. Seperti kertas. Tetapi ini makanan loh! Kata Bunda terbuat dari rumput laut. Aku sukaaa sekali. Biasanya aku akan membungkus nasi dengan nori, lalu hap! masuk deh ke mulutku. Nori selalu membuat aku dan adikku makan nasi dengan lahap. Itu kata Bunda loh!

“Hmm…coba Bunda lihat dulu ya.”

Kuperhatikan Bunda yang mengambil nori yang kuinginkan. Lalu, Bunda membalikkan lembaran nori yang terbungkus plastik. Mulut Bunda bergerak-gerak. Kepalanya juga ikut menggeleng-geleng. Setelah itu, Bunda meletakkannya kembali. Wah, apa tidak jadi beli ya?

Tetapi, tangan Bunda mengambil nori yang beda bentuknya. Yang dipegang Bunda adalah berukuran lebih kecil. Seperempat dari nori tadi. Baru setelah itu Bunda tersenyum.

“Bunda, kenapa?” tanyaku ingin tahu.

Bunda melihat ke arahku. Lalu berjongkok. Sekarang tinggi Bunda sama dengan tinggi tubuhku. Tiara juga ikut-ikutan jongkok.

“Coba sini Alma Bunda kasih tahu.” Bunda mengambil lagi lembaran nori yang besar tadi. Asyiik, Bunda mau membelikanku semuanya!

“Di balik bungkusan ini ada label putih bertuliskan cara nori ini dibuat.”

“Ooo…” Mulutku membulat.

“Yang besar ini tidak boleh dimakan. Tidak halal. Ha-ram.”

Aku jadi tertarik yang dikatakan Bunda. “Kenapa haram, Bunda?”

“Karena nori ini tidak berlabel halal dan mengandung alkohol.”

“Apa Bunda?” Aku makin tidak mengerti saja.

Bunda tersenyum memandangku. “Nori ini tidak ada label halalnya.”

“Nah, kalau ini ada label halalnya.  Artinya, boleh dimakan oleh kita, orang Islam.”  Bunda mengambil sebuah yogurt yang sudah masuk troli belanja kami.

Kuperhatikan gambar itu.

“Terus, kalau alkohol itu apa, Bunda?”

Bunda melanjutkan. “Alkohol itu minuman yang bisa membuat kita sakit jiwa. Jadi tidak ingat apa pun. Seperti orang gila.”

“Iih, takut ah!” Tiara seperti orang ketakutan.

“Iya. Makanya haram. Dilarang oleh Allah swt. ”

“Kalau yang ini, Bu?” Jariku menunjuk ke arah nori yang berukuran kecil.

“Nah, kalau ini Bunda pikir aman. Meskipun tidak diberi label halal, tetapi dituliskan bahwa nori ini dibuat tanpa alkohol. ”

“Jadi ini boleh dibeli?” Hatiku menjadi senang.

“Tentu. Allah swt memang memberi kita pilihan makanan yang baik. Jadi, kalau makan yang halal akan jadi anak sholeha. Masuk surga.” Bunda mengangguk.

“Yes!”

“Alhamdulillah, dong.” Bunda mengelus rambutku.

Kata Bunda, kami pernah tinggal di Jepang. Di sana semua makanan tidak ada label halalnya. Jadi kalau membeli, Bunda atau Ayah harus memeriksa dulu isi makanan yang akan dibeli. Misalnya, dalam makanan  yang disukai kita seperti permen, kue tart yang enak dan lezat, roti yang lembut dan gurih, marsmellow,  aneka snack sering bercampur dengan bahan yang haram loh. Makanya, kalian juga harus rajin mengecek label makanan yang kalian beli ya, kawan-kawan.

Firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mu’minun: 51).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s