[Cernak] KETIKA AKU TES DARAH

Tiba-tiba wajahku berwarna seperti tomat. Merah.

Aku tak selera bermain.

Kenapa ya?

“Yuk, kita siap-siap ke dokter.” Ibu sedang mengganti bajuku.

Di sebelahku, Alma-ne, Kakakku juga berbaring. Wajahnya juga merah seperti tomat.

Biasanya Alma-ne heboh. Mengajakku bermain peran. Dia jadi anak, dan aku jadi ibu. Tetapi, dia selalu ingin mengaturku. Hmm…aneh ya?

“Kakak juga ganti bajunya. Sebentar lagi Ibu bawa kalian berobat ke dokter ya.” Kutatap Ibu. Tubuh Ibu bergeser ke tempat tidur Kakak. Giliran Kakak berganti baju.

Ibu bilang kami akan ke dokter?

Warna wajah kami berdua benar-benar seperti tomat.

Mata kami sayu seperti sayur yang layu. Lupa dimasak oleh Ibu.

Ibu, aku dan Kakak naik taksi berwarna merah. Sama seperti warna tomat.

Tetapi, kami tidak bersemangat. Mata kami tetap sayu.

Kami tiba di dokter. Aku mulai takut ketika dinaikkan ke tempat tidur putih di ruang dokter. Suster mencoba membuka bajuku, tapi aku tidak mau. Aku berontak!

“Sayang, dokter mau periksa. Coba biarkan Suster membuka bajumu.”

Kubulatkan mataku, tanda tidak setuju.

Akhirnya Pak Dokter yang berwajah bulat  mengalah. Dia meletakkan stateskopnya di atas bajuku, bukan badanku.

Setelah itu, giliran Kakak.

“Di tes darah ya, Bu.” Ucapan Pak Dokter mampir di telingaku.

Lalu, kami berdua naik kursi roda. Itu saran Suster, karena kami terlihat lemas, katanya.

Aku suka duduk di kursi roda ini. Apalagi berdua dengan Kakak. Ibu mendorong kami, seru sekali loh!

“Tiara.” Tiba-tiba namaku dipanggil. Ibu mendorong kursi roda yang masih kami duduki.

Di dalam sebuah ruangan, ada omm dan tante yang berpakaian putih-putih. Aku memandang salah seorang dengan curiga.

Tangan mereka bersarung tangan. Sarung tangan seperti yang kami punya di rumah. Sarung tangan plastik, sisa ketika Kakak pernah diopname. Hadiah dari para Suster yang pernah merawat Kakak.

“Yuk, siapa duluan nih?” Om tadi meraih tanganku. Aku makin curiga.

“Tiara duluan?” tanya Ibu. Aku memandang Ibuku. Mau tahu ada apa ini?

“Iya ya?” Wajah Om itu tersenyum. Wajah itu mendekat ke arahku. Aku sudah tak percaya lagi. Pasti akan terjadi sesuatu padaku. Aku turun dari kursi roda itu dan berlari ke arah pintu ruangan itu.

Terdengar tawa dari tante yang seorang lagi.

“Looh, kok lari, sayang?” tanyanya.

“Ya sudah, berarti Kakak Alma dulu ya.”

Tak berapa lama, Om berbaju putih panjang memegang lengan kanan Kakak. Aku mengintip dari belakang. Tak seorang pun yang memperhatikanku.

Tiba-tiba, “Uwaaa…sakiiiit.” Kakak menjerit-jerit.

“Jangan bergerak-gerak manis, nanti berdarah.” Tanter berbaju pink berkata dengan suara keras. Tetapi, Kakak tidak juga menghentikan jeritannya. Ibuku tampak ikut membujuk Kakak dengan belaian ke wajahnya.

Aku jadi ketakutan. Tetapi penasaran, kenapa Kakak menjerit. Tubuh Om berbaju putih panjang, tante berbaju pink dan kursi roda yang diduduki Kakak menghalangi pandanganku.

“Nah, sudah selesai. Sekarang giliran Tiara ya.” Om itu mengarahkan wajahnya ke arahku.

Aku kabur lagi ke arah pintu.

“Sayang, yuk dipangku Ibu. ” Ibu membujukku, tetapi aku mengeraskan badanku. Tubuhku kaku dan keras seperti pohon di depan rumahku. Kakiku tidak mau ditekuk ketika Ibuku akan duduk memangku.

Semua orang jadi kewalahan. Aku tetap melawan. Hatiku sungguh takut. Takuuut sekali.

“Mungkin dibaringkan saja di tempat tidur itu,” sahut Om tadi.

Ketakutanku bertambah. Apalagi ketika tubuhku direbahkan. Mereka memegangi tangan kiriku dengan kuat. Sekuat-kuatnya. Sakiiiit.

Ibu membelai rambutku. Mengecup pipiku. Membisikkan kata-kata. Tetapi aku tak bisa mendengarnya, karena aku sedang ketakutan.

Tiba-tiba, “Aaaa…uwaaa….”

Ada sesuatu yang menusuk kulit tanganku. Kulirik ke arah tanganku yang terasa ditusuk. Jarum suntik! Jarum yang pernah disuntikkan ketika aku harus imunisasi.

“Sudah, sudah selesai cantik. Maaf ya, Suster nakal.”

Om itu dan temannya bergantian membelai kepalaku.

Kulihat sebuah tabung kecil berisi air berwarna coklat dipegang oleh Suster berbaju pink. “Ini darahmu. Kita periksa, apa penyakitmu, ya manis.”

Sepanjang perjalanan pulang tubuhku lemas sekali. Terbayang-bayang sakitnya suntikan tadi. Apalagi di lenganku ada perban kecil yang ditempeli tensoplas.

Tetapi, hei, aku baru tahu bahwa warna darah bukan merah seperti tomat. Melainkan coklat seperti makanan kesukaanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s