[Cerita Balita Islami] Stiker dan Voucher Kebaikan

Kata Ayah, akhir pekan ini ada libur nasional selama tiga hari berturut-turut. Hari Kamis, Jumat dan Sabtu.

“Artinya, mulai Hari Kamis besok kita semua akan menginap di rumah Enneh dan Ngking!” kata Ayah bersemangat.  Enneh dan Ngking adalah sebutan bagi Nenek dan Kakek kami.

“Horeee. Beneran nih, Yah?” tanyaku spontan.

“Betul. Apalagi nanti sepupu-sepupu kalian akan menginap juga. Asyik kan?” kata Ayah sambil tersenyum.

“Asyiiik. Aku bisa bertemu  Rara, Dina, Nisa, Mirza, Ilham dan Kak Fina, ya, Yah?” Mataku berbinar-binar ketika menyebut nama-nama sepupu kami.

“Kalau aku maunya main dengan Dina, aahh.” Adikku Tiara sudah sibuk berhayal.

“Haha. Tentu saja. Ayo, bantu Ayah dan Ibu menyiapkan pakaian untuk menginap. Pakaian renang di bawa, tidak?” tanya Ibu yang ternyata sudah mulai mengeluarkan tas ransel masing-masing anak.

“Iya, mau.” Aku dan kedua adikku serentak menjawab.

Maka jadilah kami berliburan panjang di rumah Enneh dan Ngking. Kebetulan rumah mereka berada di luar kota. Setibanya di sana, kami berebutan menyalami tangan dan mencium pipi Enneh dan Ngking. Begitu juga dengan Ayah dan Ibu.

Tak berapa lama, datanglah rombongan Om dan Tante Oka beserta ketiga putra dan putri mereka.

“Horeee. Saudara-saudara kita sudah datang ya,” Aku menyambut mereka dengan antusias. Seperti halnya ketika bertemu, mereka pun saling bersalaman. Itu kan ajaran Rasulullah saw!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.

Tak perlu menunggu lama, rumah Enneh dan Ngking mulai ribut oleh suara anak-anak yang asyik bermain Sondah.

Siang sudah menjelang. Azan zuhur sudah berkumandang dari mesjid terdekat.

“Anak-anak, bermainnya sudahi dulu. Semua sholat berjamaah yuuk.” Ibu mendekati anak-anak yang semakin bersemangat bermain.

“Yaa. Lagi asyik nih, Bu. ” Aku menyahut dengan nada kecewa.

“Asyiknya di tahan dulu. Kita melakukan kewajiban kepada Allah swt. Itu lebih penting. Ya, sayang.” Ibu terus membujuk.

“Enggak mau ah. Males yaaa…” Aku mulai mempengaruhi adik dan saudara-saudaraku yang lain.

“Iya, ya…” Mereka serempak menjawab. Bersahut-sahutan. Ibu sampai geli mendengarnya.

“Loh Alma kok begitu. Tapi, ya, sudah kalau tidak mau dapat voucher ke surga, tidak usah sholat.” Ibu berkata sambil bersiap-siap meninggalkan kami

“Eh, voucher ke surga? Apa itu?” Rara, kakak sepupuku yang usianya sudah tujuh tahun tertarik dengan ucapan Ibu.

Ibu berhenti sejenak. “Siapa yang berbuat kebajikan di dunia, seperti sholat, mengaji, bersedekah, nanti boleh dapat voucher. Voucher itu nanti ditukar kepada Allah swt untuk masuk ke surga. Surga itu penuh mainan, penuh permen, penuh mainan yang keren-keren loh!”

“Woow. Aku mau, aku mau.” Rupanya Rara berubah pikiran. Dia langsung meletakkan benda permainannya.

“Aku wudhu dulu ya.” Tangannya dilambaikan ke arah anak-anak lainnya.

“Aku ikut juga ah. Mau dapat voucher.” Tiara, mengikuti gaya Rara.

“Eh iya. Dina juga.” Dina pun begitu.

Mirza dan Dzaky, para anak laki-laki sudah sejak tadi bersiap-siap di mushola kecil milik Ngking. Satu per satu anggota keluarga sudah mulai memenuhi mushola berukuran sedang itu.

Tinggal aku nih…

“Lalu, anak Ibu yang paling manis ini bagaimana? Mau dapat voucher atau tidak?” Mata Ibu menggoda. Lesung pipit Ibu terulas di pipinya.

“Hehe. Iya deh. Alma juga mau ke surga.” Dengan malu-malu aku berhenti bermain dan segera ke kamar mandi untuk berwudhu.

Alhamdulillah sholat berjamaah selesai dengan baik. Anak-anak sangat khusuk beribadah. Setelah bersalaman dan memaafkan, anak-anak berkumpul ke dekat Ibu.

“Nah, ini buku rapor kebaikan Alma, Tiara dan Dzaky. Ibu sudah menulis kebaikan sholat berjamaah siang ini. Silahkan memilih stiker yang akan dipasang di rapor ini.”

Ooo, rupanya Ibu sudah menyiapkan buku rapor kebaikan. Setiap kebaikan kami akan dicatat, lalu ditempeli stiker pilihan anak-anak. Terakhir Ayah akan membubuhi tanda tangan di buku rapor ini.

“Kami tidak punya rapor seperti itu.” Keluh Rara dengan wajah sedih.

“Tidak apa-apa. Ikut aja dulu dengan buku kami. ” Aku memberi ide.

“Boleh kan, Bu?” tanyaku.

“Tentu saja boleh. Kebetulan Ibu juga mau menuliskan kebaikan Rara dan Dina di sini. ” Ibu tersenyum.

“Horeee…kita juga bisa pilih stiker kebaikan ya.” Rara berkata kepada adiknya, Dina. Dina mengangguk senang. Mereka memilih stiker berbentuk hati berwarna pink dan putih.

“Lalu vouchernya mana, Bu?” tanya Tiara.

“Vouchernya ya stiker dan buku rapor ini.” Ibu tergelak mendengar pertanyaan Tiara.

“Setiap kebaikan kita dicatat oleh malaikat Rokib dan dilaporkan kepada Allah swt. Begitu.” Ibu menerangkan dengan sabar.

“Oke deh, Bu. Kami sudah boleh main?” tanya anak-anak.

“Setelah kalian lipat mukena masing-masing, silahkan bermain lagi.” Ibu melipat mukena dan sajadahnya.

“Horeee. Yuk, kita lipat dan pergi bermain lagi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s