A Million Ways to Land of Sakura


DreamCather: A Million Ways to Land of Sakura

Oleh: Ellnovianty Nine

Aku merasa jauh lebih muda akhir-akhir ini. Bukan karena operasi plastik, atau pacaran dengan brondong, tapi karena berhadapan dengan mereka yang muda. Muda karena usia, muda karena kepolosan berpikir, dan yang paling utama adalah mereka muda karena semangat yang bergelora.

Pertemuanku dengan mereka di dunia maya. Itta, Yuqi, Roni, Yanie, dari Jawa. Ada Fita dari Palembang, Hadi dari Jakarta, Ayu dari Banjarmasin, dan ada beberapa orang lagi dari Kalimantan dan Medan. Mereka memanggilku ‘mbak’, ‘teteh’, bahkan ‘bunda’. Itu karena usiaku terpaut sembilan belas tahun lebih dengan mereka. Wow! Angka yang fantastik bukan?

Mereka adalah pengejar impian yang luar biasa. Semuanya berminat untuk menapakkan kaki mereka-one day- di negeri Sakura, Jepang. Wajah-wajah mereka, semangat mereka, kepolosan mereka, bagai cermin diriku 17 tahun yang lalu. Ketika usiaku sama seperti mereka. Masa-masa berseragam abu-abu putih. Dan Allah menitipkan segala akses informasi yang mereka mau di otakku.

“Bunda, aku harus ke Jepang. Bagaimana pun!” Satu semangat yang membuatku berjanji membantu untuk mewujudkan cita-cita mereka. “Mbak, aku part-time deh ke Mbak. Buat nambah-nambah kalau nanti jadi kuliah di Sastra Jepang Unpad. Ayahku sedang mumet memikirkan uang kuliahku, jadi aku harus bantu diriku sendiri.” Hati ini tersentuh. Namun, apa yang harus kukatakan padanya? Karena aku bukan seseorang yang bisa memberikan lahan pekerjaan kepadanya. Aku hanya seorang istri dan ibu rumah tangga biasa, dengan 3 orang buah hati, namun beruntung pernah menapakkan kaki di ranah Sakura tersebut.

Kuliah sambil bekerja part-time itulah duniaku di sana. 10 tahun aku menikmati kehidupan di Jepang dengan keringatku sendiri. Bentuk kehidupan yang tidak mungkin dalam nalar, namun nyata dalam catatan hidupku. Catatan hidup yang sudah dituangkan dalam buku antologi La Tahzan for Student (LPPH, 2011) yang berhasil masuk 5 besar Penghargaan Apresisasi Pembaca Indonesia 2011. Lalu sebentar lagi akan difilmkan dengan judul pilihanku sendiri, ORENJI (fb. Orenji Movie). A

A Dream Catcher. Aku pernah menerimanya dari room-mateku di kota Kyoto, 13 tahun yang lalu. Dia seorang warga Jepang yang setelah lulus SMA mengejar impiannya ke Amerika. “Novi, ini hadiah persahabatan kita. Pribumi Amerika-Indian mempercayai bahwa mimpi yang baik ditangkap untuk menjadi bagian dari jaringan kehidupan, sementara mimpi-mimpi buruk akan lewat begitu saja melalui lubang yang ada di tengah penangkap mimpi.” Begitu kata Suezumi Makiko, sahabatku yang akhirnya kini menetap dan beranak pinak di Corvallis, Oregon.

Aku, Makiko, dan juga adik-adik yang kini intens mengunjungiku lewat YM, FB, bahkan SMS dan telepon mungkin pengejar impian. Tetapi bukan mimpi kosong dan hanya angan-angan belaka. 17 tahun yang lalu, aku adalah anak-anak muda itu. Impianku menjadi seorang dokter kandas di meja UMPTN. Banting stir ke bidang Sastra Jepang, hanya karena aku merasa huruf keriting alias huruf Kanji itu keren abis! Jika itu diingat-ingat, tujuanku masuk Sastra Jepang sangat kekanak-kanakan. Bahkan Ibuku sendiri meragukan apakah nanti aku bisa dapat kerja?

Berbeda jauh dengan anak-anak muda di depanku sekarang ini. Tujuan mereka sangat jelas, ingin kuliah ke Jepang. Bahkan mereka sudah mulai mempersiapkan diri sejak seragam mereka masih abu-abu putih. Amazing!

Mereka ingin punya masa depan yang lebih baik. Tidak ingin jadi ‘manusia biasa’, tapi ‘manusia luar biasa’. Dan, aku berjanji pada diriku sendiri, mengajari mereka untuk membuka sejuta jalan menuju ranah Sakura, Jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s