Novel Anak-5. “DION dan KEAJAIBAN di CELEMEK MOMY

Bab-5. CELEMEK ITU MELEKAT DI TUBUHKU!

Dion menggeliat. Mulutnya mangap-mangap seperti ikan. Jari telunjuk kanannya menggapai-gapai. Seolah-olah di dekatnya ada sesuatu. Lalu, telunjuk tadi dimasukkan ke dalam mulutnya sendiri. Dion mengemut jari itu! Setelah itu mulutnya mangap-mangap lagi.

Kring…kring…jam weker yang berada di atas kepala tempat tidur Dion berbunyi nyaring. Sudah jam 5 pagi.

“Sudah bangun, Sayang. Yuk, sholat subuh. Dady sudah menunggu.” Momy rupanya sudah berada di kamar itu. Seperti biasanya Momy akan mencium wajah Dion. Lalu membisikkan kata-kata ajaib. Misalnya, Dion ada coklat hangat kesukaanmu sayang. Maka telinga Dion akan bergerak-gerak. Kemudian Momy akan melanjutkan dengan kata-kata yang lebih menyenangkan. Dion, pagi ini sarapan coco-crunch kesukaanmu. Maka, bola mata Dion akan merespon. Bergerak ke kanan atau ke kiri, meskipun masih diselubungi kelopak mata.

Tetapi, pagi ini Dion tidak perlu dibangunkan rupanya. Kemarin sore, Dion langsung terlelap karena keletihan bermain di sekolah, dan membantu Momy memasak kukis enak. Satu loyang habis dikunyahnya, perutnya terasa penuh dan hatinya terbang karena kegirangan.

“Dion, lain kali gosok gigi dan pipis dulu sebelum tidur. Lihat, sepreimu bau.” Momy menggoda Dion.

Seketika tubuh Dion duduk. Seperti robot yang tombolnya baru dinyalakan. “Momy, jangan bilang ke Dady ya. Kan malu.”

“Hmm…bagaimana ya? Habisnya anak Momy ini tidak mau berusaha untuk mengingat apa kata Momy.”

“Misalnya apa, My?”

“Selalu tidur dengan seragam sekolah. Sepatu pasti kotor dan tidak langsung disikat. Tidur tanpa gosok gigi. Sholat sering ditinggal. Apa lagi ya…?”

Buru-buru Dion bangun. “Iya My, aku janji mau bersih-bersih.”

Lalu dia bangun dan lari ke kamar mandi. Menggosok gigi, mandi tergesa-gesa, dan bingung bagaimana keluar dari kamar mandi? Ia lupa menyambar handuk yang biasanya tergantung di jemuran kecil.

“Momy…tolong dong.”

Bi Tati tergopoh-gopoh dari teras belakang. “Ada apa, den?”

“Handuuuk. ”

Bi Tati terkekeh, pasti bocah bagus itu pipis lagi.

Setelah urusan berganti baju selesai, Dion tergerak untuk mengganti sepreinya sendiri. Sepertinya Momy tadi hanya sempat mencopoti seprei bergambar batman yang ternoda oleh air kencingnya. Entah mengapa Dion merasa malu sekali.

“Hei, ini kan celemek Momy. Kok tidak diambil sih?” Dion memungut selembar celemek bercorak teddy bear dari lantai. Tepat berada di sisi kiri tempat tidur. Tidak terlihat menyolok, mungkin karena itulah Momy tidak sadar bahwa ada celemek yang tergeletak begitu saja.

Ketika tangannya meraih celemek itu, tiba-tiba saja celemek itu melekat ke bajunya!

“Ha? Apa ini?” Dion terjatuh. Kaget sekliagus bingung dengan kejadian yang berlangsung tidak sampai tiga detik tadi.

“Uuh.” Dion berusaha melepaskan celemek tadi.

“Eh, kok tidak bisa lepas.” Keningnya berkerut. Ditarik-tariknya kain itu, tapi tidak juga lepas. Malah badannya terasa ditarik-tarik akibat menarik-narik kain tadi.

Dion mondar-mandir di kamarnya. Sedang mencari akal untuk menutupi celemek itu. Kalau Andini, teman sekelas yang duduk di sebelahnya melihat itu, bisa-bisa dia jadi bahan tertawaan. Anak perempuan itu memang senang sekali mengolok-olok Dion. Satu hal yang sangat dibencinya.

“Hmm…” Wajah Dion sedikit tersenyum. Sweater biru tua yang dihadiahi Enneh menjadikan bibirnya merekah.

“Ya deh, pakai ini saja!”

“Di…ayo berangkat. Sarapanmu sudah dingin nih.” Suara Dady menggema ke langit-langit rumah. Kaki-kaki kecil namun bertenaga itu tergopoh-gopoh menuruni anak tangga.

“Yuk berangkat.”

“Loh, tidak sarapan dulu. Nak?” Momy jadi ikut-ikutan tergopoh-gopoh mengejar Dion yang sudah melaju ke arah garasi. Dady geleng-geleng melihat semangat putra semata wayangnya ini.

Mentari pagi bersinar sungguh terang. Bahkan sangat terik, padahal hari baru menunjukkan jam setengah enam. Pertanda hari ini pertandingan sepak bola antar kelas empat dan lima akan semarak. Dion sangat antusias membayangkannya.

“Cuaca cerah begini kok pakai sweater?” Dady menghidupkan mesin mobil.

“Eh. Oh. Iya…” Seolah diingatkan, Dion malah bingung menjawab.

Mobil melaju. Sedangkan tangan kanan Dion masih terus mencoba menarik  celemek itu.

Namun tidak juga lepas!

Duuh, bagaimana ini? Kening Dion berkerut kembali.

-bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s