Novel Anak-4 “Dion dan Keajaiban di Celemek Momy”

Bab-4. Kehebohan di Dapur

“Momy, tadi teman-temanku suka sekali dengan kukis buatan Momy, loh.” Dion memperlihatkan kaleng biskuit kosong yang tadi dibawanya ke sekolah.

“Oh ya. Waaah, Momy senang sekali. Bu Nina juga makan?” Mata Momy berbinar-binar.

“Iya. Bu Nina malah mau pesan, katanya!” Dion duduk di salah satu kursi makan. Mengamati Momy yang terlihat sibuk dengan celemek bermotif strawberry.

“Oh gitu. Senang deh. Kalau gitu kita buat lagi yuk!”

“Benarkah, My?” Kini giliran mata Dion berbinar-binar.

“Tapi dengan catatan kamu bantu Momy ya.”

Dion tampak ragu. Belum pernah tangannya menyentuh alat masak Momy.

“Tidak sulit kok. Nanti Momy atur Dion harus mengerjakan apa. Ya?”

“Ok, Mom.” Dion langsung sibuk di dapur. Entah apa yang membuatnya sibuk, karena dia belum diberi tugas apa pun oleh Momy.

Melihat kesibukan tak jelas itu, tiba-tiba Momy berkata,”Nak. Pakai ini.”

Selembar celemek hijau bermotif teddy bear diberikan Momy kepada Dion. Mata si ganteng ini langsung membulat. Tidak percaya!

“Haa? kok aku harus pakai ini sih, Mom? Tidak mau, malu seperti perempuan saja.”

“Loh, itu aturan kalau jadi koki. Dion pernah nonton acara The Junior Master Chef, kan? Semua anak yang ikut lomba masak wajib pakai celemek. Nah, anak kesayangan Momy juga harus.”

Mau tak mau Dion mencoba celemek itu. Ternyata kedodoran. Ya iyalah, kan itu celemek Momy.

“Ya, mari kita mulai.” Momy mengajarinya cara memecahkan telor. Lalu ia mencobanya satu.

“Yaa…berantakan nih, My!”

Momy terkikik melihat kulit telur hancur dan masuk ke dalam mangkuk steinles. “Tidak apa-apa. Coba sekali lagi. Caranya pecahkan saja bagian atas kulit telur. Pelan-pelan dibuka sampai cukup luasnya untuk menumpahkan isinya.”

“Wow, aku bisa, My!” Dion bersorak gembira. Sayangnya ia lupa diri, sampai-sampai mangkuk steinles itu tersenggol dan isinya tumpah ke lantai!

“Aaahhh!” Momy terpekik. Namun berusaha untuk menguasai diri. Momy tidak mau Dion jadi takut, patah semangat karena ketidaksengajaan tadi.

Setelah itu dicoba lagi, dan barulah berhasil.Dua butir telur sudah dimasukkan dengan baik.

“Gulanya tolong dimasukkan .Yang sudah ditimbang.”

“Hmm, nyummy.” Lidah Dion bergerak-gerak. Tanpa sepengetahuan Momy gula tadi diambil sejumput lalu dimakannya. Rasa manis mengundang jarinya untuk mengambil sejumput lagi. Lagi, lagi dan lagi.

“Ehem…ehem…kalau dimakan terus bagaimana kukis kita akan jadi?” Wajah Momy menyelusup dari belakang tengkuk Dion.

“Hi-hi-hi.”

“Sekarang kita kocok. Nanti ditambah mentega cair dan tepung terigu.” Momy sangat bersemangat, tetapi Dion bingung dengan semua kalimat Momy. Dia tidak pernah memasak kukis, bagaimana membayangkan benda-benda yang baru saja disebut Momy!

Semuanya berjalan lancar, sampai tiba-tiba tepung tumpah dari meja. Tepung keluar berserakan, mewarnai beberapa petak lantai dapur.

“Maaf ya, Momy.”

Momy sebenarnya sudah mulai kesal. Momy yang terkenal dengan kebersihannya, bolak-balik ke luar pintu belakang untuk mengambil sapu dan kain pel.

Jarum jam menunjukkan angka setengah dua. Harum wangi kukis pesanan Dion sudah terendus. Momy yang tengah asyik menikmati hidangan mocchachino tampak tersenyum.

“Dion, kukis kita sepertinya sudah matang!”

Si ganteng yang berlepotan tepung, mentega, dan sisa-sisa lendir telor spontan berdiri. Mulutnya penuh sisa-sisa coklat yang mengering. Ia sempat mengambil sisa-sisa adonan yang menempel di mangkuk steinles, lalu menjilatinya.

Kedua tangannya memegang alat kemudi game WII. Dia sudah tidak perduli lagi dengan game yang sedang dimainkannya. Cepat-cepat dia menyusul Momy ke dapur. Pelan-pelan Momy mengeluarkan seloyang kukis. Mengecek apakah sudah matang.
“Ok! Siap disantap, Sayang.”

“Mau dong, My.”

“Eits, nanti dulu. Tunggu lima belas menit lagi ya. Sekarang masih panas sekali. Nanti lidahmu terbakar.”

Terbit air liur Dion membayangkan kukis dengan aneka topping. Ada coco-crunch putih-coklat. Ada kacang mede, almond, dan peanuts. Selain itu Momy memberikan sebagian selai strawberry, nenas dan blue berry. Yang paling menggiurkan dirinya adalah ukiran selai coklat yang sungguh mengundang selera. Momy benar-benar jagonya mendekorasi kukis. Pantas saja Bu Nina ingin pesan.

“Momy mau beres-beres dapur ini ya, Nak. Dion main dulu di tempat lain.”

Momy memindahkan empat loyang ke tempat kulkas yang ada di atas kulkas. Setelah dapur bersih mengkilap, Momy pergi ke kamar tidurnya. Beristirahat. Terbayang nanti malam, mereka, Dady, dan Bi Tati akan mencicipi kukis Momy yang terkenal enaknya.

Momy sudah rapi berdandan menunggu kedatangan Dady. Suara mobil Dady sudah terdengar memasuki halaman. Wajah Momy tersenyum. Ia sudah menyeduh chochocino favorit Dady dan meletakkannya di meja makan. Dady paling senang berleha-leha menikmati hidangan sore di meja makan. Bukan di kursi lain.

“Assalamu’alaykum” Suara Dady membahana.

“Iya. Wa’alaykumsalam. Halo Dady.” Suara Momy terdengar riang. “Duduklah Dady sayang. Ada kejutan sore ini.”

“Waah apa itu?” Wajah Dady ikut-ikutan riang.

Momy menjulurkan tangannya meraih sesuatu di atas kulkas.

“Loh? Eh?” Dari bibir Momy terdengar potongan-potongan kata. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan. Momy meraih kursi kecil dan menaikinya. Dengan begitu tinggi Momy bertambah dan bisa melihat dengan jelas ada apa di atas kulkas.

“Ha? Ke mana?”

“Ada apa, Mom?” Dady mulai terusik dengan tindak tanduk Momy.

“Hehehe. Begini Dady. Dion bantu Momy masak kukis tadi siang. Hasilnya ditaruh di atas ini biar nanti kita bisa makan bareng. Tapi, kotak kuenya tidak ada!”

Tiba-tiba wajah Dady tersenyum. “Mesti cek Dion dooong.”

Spontan Momy berlari ke lantai atas. Pintu kamar Dion dibuka dan…

Rrr…rrr…Dion sangat lelap dengan mulut berisi potongan kukis dan masih memakai celemek kedodoran tadi.

“Oh anakku…” Momy trenyuh melihat pemandangan itu.

-bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s