[Parenting] Ngasuh Anak Sendiri di Sapporo

Hari ini, Jumat- 13 Januari 2012;

  • de Paris Van Java

Putri sulung kami sudah berangkat ke TKnya. Pagi-pagi tugas Ayah mengantarkannya. Sedangkan aku, meneruskan rutinitas beres-beres rumah dan mengurus dua anak kami yang lain.

Kebetulan si bungsu sedang demam panas. Sejak kemarin demamnya dimulai. Disertai muntah-muntah. Ia belum kami bawa ke dokter. Rasanya kami masih bisa mengatasinya dengan berbagai cara. Plus, nggak pake acara panik-panikan.

Nah, dengan kondisi si bungsu sakit begini pun mau tak mau tugasku menjemput si sulung, harus tetap dilaksanakan. Sebenarnya kondisi yang riskan. Mengingat cuaca akhir-akhir ini saja sering diwarnai oleh mendung dan hujan rintik-rintik tak beraturan. Baru semenit yang lalu matahari bersinar, tiba-tiba saja turun hujan. Terlihat deras, tetapi sebenarnya hanya rintik-rintik yang rapat. Namun hal ini cukup memancing ketidakstabilan pada kondisi kesehatan anak-anak. Betul nggak?

Maka dengan membaca bismillah, kubawalah si bungsu dan si tengah menjemput kakak mereka. Kupasangkan jaket pada setiap tubuh anak-anak. Biasanya mereka jarang dipasangi jaket. Keduanya tergolong anak-anak bertubuh kuat, jarang sakit dan paling tidak suka tidur berselimut. Beda halnya dengan si sulung yang punya alergi dingin.

Naik angkotlah kami bertiga.

  • de Yuki Guni

Hmm…mengingatkan aku pada keseharianku dulu di Jepang. Tepatnya di Kota Sapporo yang terkenal dengan nama YUKI GUNI ( 雪国)

Yuki=salju; Guni–dari kata Kuni = Negara, dalam hal ini kota). Waktu itu antara tahun 2006 dan 2009. Kami baru punya si sulung dan si tengah. Sedangkan si bungsu lahir di Bandung–made in oncom (hehehe).

Hidup di Jepang, berarti siap tanpa pembantu. Apalagi tidak ada keluarga yang tinggal berdekatan. Misalnya, Ayah, Ibu, bibi, uwak, tante, paman atau kakak dan saudara lainnya. Mengharapkan teman untuk dititipi anak-anak? Itu solusi yang terbaik, mungkin. Pernah juga satu dua kali kualami, tetapi nggak pake sering-sering loh ya.

Titipi anak di TPA bagaimana?

Oww, yang ini nggak mungkin sekali. Di Jepang, menitipkan anak di TPA harus jelas alasannya. Hal utama yang mendasari para orangtua Jepang menitipkan anak-anak mereka di TPA adalah: karena ibunya bekerja atau karena hal lain tidak bisa mengurus anak-anak mereka sendiri. Jelas bukan sekedar trend biar anak masuk pendidikan lebih dini.

Pemandangan aku berjalan sambil menggendong satu anak di punggung/dada, sedangkan tanganku mendorong satu anak lain dalam baby car, itu sudah biasa.

Biasanya orang lain akan memberikan senyuman melihat ‘keribetan’ tadi. Bahkan pernah seorang kakek memberikan kata-kata semangat,”頑張ってね gambatte ne,” (semangat ya!) kepadaku. Aku cuma nyengir karena selain dua anak dengan dua kondisi tadi, di baby car pun aku menggantungkan beberapa gembolan lain. Plastik belanjaan gitu loh.

Enaknya hidup di kota itu, adalah jalanan sangat datar. Tidak bergelombang. Tidak bolong-bolong. Aman dipakai oleh pejalan kaki. Makanya tidak heran aku bisa tetap menikmati udara luar rumah meskipun membawa dua anak yang usianya masih sangat-sangat balita. Waktu itu si sulung baru 1 thn 9 bln, sedangkan adiknya baru 3 bulan. Itu misalnya. Lebih hebohnya lagi ketika aku berhadapan dengan musim dingin! Wow makin seru.

Mau keluar rumah aja mesti ribet dengan ritual memasangkan baju anti dingin. Mulai dari baju daleman, short-jhon (hihihi, kebalikan dari long-jhon), jaket yang terkadang berbentuk terusan, atau yang dibagi dua- atasan dan bawahan. Setelah itu kupluk anti dingin, sarung tangan. Ada juga anak-anak yang diberi tambahan penahan dingin di telinga. Terakhir kaus kaki tebal dan sepatu boots anti-slip.

Kalau sudah begitu, biasanya adaaa saja anak-anakku yang mulai rewel. Eng ing eng.Mungkin ribet ya. Tebal pula! Mereka berasa robot kali. Aku aja gerah banget kalau pakai baju setebal itu. Tapi bedanya, kalau orang dewasa masih bisa menipis-nipiskan jaketnya. Sedangkan untuk anak-anak harus benar-benar yakin bahwa mereka terlindung dari suhu dingin yang menyakiti diri mereka.

Setelah itu barulah menikmati panasnya sinar matahari. Anak-anak paling senang bermain ‘menjatuhkan diri ke dalam tumpukan salju’. Atau, naik gunung-gunungan salju (yang sengaja dibuat di taman kompleks), lalu mereka meluncurkan badannya. Kalau kreatif, bisa bikin seluncuran salju dari bahan plastik atau benar-benar membawa papan seluncur salju berukuran mini. Hitung-hitung belajar meluncur sebelum ikut olimpiade musim dingin…hihihi (hus! ngarang aja nih mama).

Yang paling seru biasanya pas kepentok bepergian pake kereta. Maklum, harus naikin baby car ke dalam kereta, juga nurunin ketika tiba di tujuan. Di dalam kereta, ada green sheet. Di sini hak para manula, ibu hamil, orang yang cacat untuk duduk tanpa harus sungkan-sungkan dengan penumpang lain. Alhamdulillah dapat kemudahan lagi (selain adanya fasilitas jalan untuk pejalan kaki).

Hmm…tapi ada sedihnya juga sih. Gini-gini aku kan seorang wanita. Terkadang ketika menurunkan/menaikkan baby cari ke/dari gerbong kereta, mau dong dibantuin para lelaki. Tapi, hiks, kayaknya orang Jepang masih banyak yang malezs nolong. Beneran! Bukan bohong looh.

Meskipun ada kampanye ‘bantulah ibu dan anak’, di mana posternya dipampang gede-gede di berbagai tempat, bahkan ada gantungan kuncinya yang terayun-ayun di tas si ibu dan anak tadi, tetep aja nggak ada yang minat menolong. Alhasil, bersusah payahlah diriku sendiri (dan para ibu beranak lainnya).

Kalau di negara kita, pasti pada rebutan bantuin ya! (smile)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s