[Displin Ala Japanese] MAKAN ITU YA DI MEJA MAKAN!

Entah mengapa tiba-tiba aku teringat soal makan (lapeeer nih ye).

Seorang wanita Jepang yang terhitung sudah berusia enam puluh tahun lebih, dan sudah memiliki beberapa orang cucu, pernah bercerita padaku.

“Dulu, kalau belum selesai makan pantang turun dari kursi. Meskipun sudah merasa kenyang, tetap harus! wajib! menghabiskannya. Tidak boleh tersisa.

“Aku ingat betul dulu sering menangis karena harus menghabiskan bulir-bulir nasi hingga tak tersisa sebutir pun.” Begitu katanya padaku.

Sejak punya anak pertama di Jepang, aku terbiasa mendidiknya makan itu duduk rapi di meja makan. Bukan berjalan-jalan sambil disuapi. Entah mengapa terpikir hal seperti itu. Hmm…mungkin naluriku seperti itu ya? (lah, kok nanya sih?)

Cara makannya juga tidak dicampuradukkan dalam satu piring, tetapi persis seperti orang Jepang. Nasi di cawan kecil, lauk (ikan atau daging) di piring panjang pipih, supnya juga terpisah. Lalu dilengkapi dengan buah atau puding sebagai makanan penutup.

Suatu hari kami sekeluarga diundang dinner oleh Club Rotary, sponsor pemberi beasiswa bagi suamiku. Acara itu sebenarnya hanya khusus untuk anggota dewasa! Bukan anak-anak…

Ya Allah, aku dan suami udah deg-degan nih. Duuh gimana ya kalau si sulung (saat itu masih usia 1,5 thn) bakal rewel. Takut mengacaukan acara. Tetapi tidak ada pilihan selain mengajaknya ke acara tersebut karena kami kan hidup tanpa pembantu.

Acara berlangsung khidmat. Khidmat gitu loooh (tolong, aku panik waktu itu). Tapi alhamdulillah semua beres. Si sulung duduk tenang membuka-buka buku cerita yang kubawa. Terpikir olehku untuk membawa banyak buku cerita yang halamannya tipis-tipis tapi full gambar dan warna. Biasalah, kita sebagai ibu kan biasanya harus bisa mengenali kesukaan anak-anak.

Berikutnya adalah acara dinner. Diiringi piano yang melow-melow begitu musiknya. Ya Allah, aku yang tadinya udah merasa lega harus panik lagi. Gimana kalau anakku nangis di sela-sela dinner? Kan tidak lucu jika melodi piano klasik tadi harus berantem dengan suara tangisan anakku.

Ternyata, eh ternyata. Si nduk kami yang mungil ini malah bak tuan putri. Duduk manis di atas kursi khusus balita. Lalu, setiap makanan yang datang disuapnya dengan anggun, tanpa tumpah-tumpah! Ya Allah, besaar sekali rasa hatiku melihat hasil dari training tata krama makan di rumah selama ini. Dia pun tak ragu memotong kue dengan garpu kecil, lalu menyuapinya ke mulutnya. Gayanya itu loh yang nggak tahan: pakai menadahkan sebelah tangannya persis di bawah suapan tadi. Biar tidak tumpah ke lantai, begitu.

Subhanallah, kami terkagum-kagum dengan kepintarannya.

Sebenarnya, hal ini bukan hanya terjadi pada anak kami. Aku lihat di Jepang, baik itu di dalam rumah sendiri, atau di restoran, anak-anak Japanese selalu makan dengan tertib. Tidak ada yang berkeliaran. Kecuali sedang memilih-milih makanan yang disediakan ala prasmanan (tabe hodai 食べ放題).

Di sana, secara umum selalu tersedia kursi untuk balita di restoran-restoran. Biasanya usia satu tahun sudah duduk manis makan sendiri. Meskipun belepotan, tetapi para orangtua Japanese tidak pernah memberikan perhatian ekstra kepada si anak. Cukup dengan mengajarkannya makan mandiri. Bukan disuapi atau dikejar-kejar hingga makanan masuk ke mulut.

Kebalikannya, justru dari mulut para ortu tadi sering keluar kata-kata ancaman. “Hayo duduk, jangan pecicilan, nanti Ayah tabok nih…”

Anak-anak mereka lalu kembali ke tempat duduk masing-masing.

Tata krama ini berlaku hampir di semua anak Japanese. Setidaknya itu yang kuamati sekian lama. Entah itu ketika aku tinggal di kota Shizuoka (1997-199), kota Kyoto (1999-2004) bahkan terakhir di kota Sapporo (2006-2009). Tidak ada anak-anak Japanese yang makan berjalan ke sana ke mari. Semua duduk rapi hingga suapan terakhir.

Selain pendidikan tata krama oleh para ibu di rumah mereka masing-masing, anak-anak ini pun diajarkan hal yang sama di PG, TK dan tingkatan sekolah umum lainnya.

Di taman-taman pun tidak ada anak yang makan sambil lari sana lari sini. Semuanya diajar duduk di atas karpet piknik, makan dengan khidmat. Sesekali bercerita dengan orangtua mereka.

Setelah urusan perut beres, barulah mereka boleh berkeliaran dengan lepas.

Jadi, selama ini aku belum pernah menemukan restoran atau family restoran atau restoran cepat saji yang di dalamnya di sediakan fasilitas bermain. Misalnya, perosotan atau jungle gym sederhana. Semuanya terpisah. Makan ya makan, main ya main.

Seperti yang diajarkan Rasulullah saw kan ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s