NEGERI ‘KIRA-KIRA’

“Negeri Kira-Kira”. Setidaknya istilah ini sudah beberapa kali kudengar dari kolegaku yang rata-rata orang Jepang.

Aku mengerti betul apa yang mereka maksud ‘kira-kira’ itu. Bukan berarti kerlap-kerlip dalam bahasa Jepang, tetapi sesuatu yang tidak jelas. Alias mengira-ngira.

Mengapa tiba-tiba aku menulis tentang ini ya? Kebetulan akhir-akhir ini aku punya ‘sparing Coba tengok tulisanku sebelum ini yang berjudul “Rasa-sepi-di-luar-negeri”. Di sana aku ceritakan siapa sparring partnerku itu.

Kembali ke masalah kira-kira, pernah tidak teman-teman perhatikan apa perkembangan yang berarti di depan mata kita. Kalau aku melihatnya begini.

Aku sudah biasa berobat ke RS Borromeus, salah satu RS terkenal di Bandung. Kalau nggak salah baca sering dapat penghargaan di bidang pelayanan kepada konsumen. Sejak kecil aku sudah ke sana. Sekarang usiaku sudah 39 tahun. Sekitar sekian puluh tahun ada saja kejadian yang membuatku ke sana. Mulai dari diriku sendiri yang harus mendapat perawatan, atau besuk orang tua, dan sekarang setelah punya anak giliran menunggui anak-anak ketika mereka harus diopname. Selama itu juga aku melihat rumah sakit ini sangat berkembang.

Meski pun rumah sakit berbasis kristen, tetapi pihak rumah sakit menyediakan layanan rumah ibadah (kalau dalam Islam = mushala) untuk keluarga pasien yang beragama Islam. Makin betah saja konsumen beragama Islam ke sana. Selain karena rumah sakit ini berada di pusat kota.

Tapi bukan masalah itu yang membuat rumah sakit itu ‘kira-kira’. Bukan! Justru yang membuat rumah sakit itu terlihat ‘kira-kira’ ketika kolega Japaneseku berkata begini.

“Bagaimana kita tahu sudah sampai antrian nomor berapa?”

“Biasanya akan dipanggil.”

“Ooo…Padahal coba letakkan saja display nomor di tiap ruang klinik. Pasti lebih mudah dilihat pasien.”

Kebayang nggak hal kecil seperti itu seharusnya sudah terpikir oleh pihak rumah sakit sejak puluhan tahun belakangan ini. Tapi kan tidak ada ya. Kita tetap bertahan dalam budaya tidak tertib, dikit-dikit berdiri dari tempat duduk ketika melihat suster nongol dari ruang klinik dokter. Buat apa lagi kalau bukan bertanya,”Suster, sekarang nomor berapa ya?”

Pertanyaan itu akan kita ulangi ketika tidak terdengar dengan jelas, atau ketika keasyikan ngobrol dengan teman. Kalau ada petunjuk sudah nomor berapa secara otomatis, kita tidak perlu bertanya seperti itu.

Contoh lain ada pada cara membangun.

Dalam kaitannya membangun rumah, aku mendapati dua kekhasan dalam hasil bangunan yang dikerjakan tukang-tukang di tanah air. Yakni, setelah rumah jadi, kira-kira sebulan kemudian akan terlihat retakan dan resapan air di dinding.

“Itu biasa, Bu.” Kira-kira begitu jawaban si arsitek kalau aku tanyakan. Jawabannya benar-benar kira-kira.

Kalau dalam hal ini yang bertanya orang Jepang, pasti mereka tidak terima jawaban seperti itu. Harus selalu ada alasan yang jelas mengapa jadi begini or begitu. Tidak boleh kira-kira. “Itu biasa, Bu” bisa dimaknai “sesuatu yang tidak jelas.” Kenapa harus ‘biasa’? Seharusnya hal seperti itu dihindari benar-benar sehingga konsumen puas. Tapi dasarnya orang kita, selalu nrimo dan memaafkan segala kondisi. LEGOWO.

Menurutku yang paling menonjol dari kehidupan kita adalah kondisi sosial masyarakat yang itu-itu saja. Kemiskinan, kecenderungan mementingkan diri sendiri, puas dengan kondisi apa adanya, kurang pemacu semangat, membuat kita nrimo saja. Makanya nggak ada subway setelah 50 tahun lebih Indonesia merdeka. Kita tetap nrimo. Tingkat derajat kehidupan kita ditentukan oleh kekayaan pribadi. Bukan peningkatan derajat kehidupan secara bersama.

Akhir Desember tahun 2012, aku dan suami sempat main ke Thailand. Duuh miris sekali jika membandingkan Bangkok dan Jakarta.

Jakarta yang sudah sangat dipandang sebagai kota metropolitan di negeri, boleh dibilang masih jauuuuh keren dari Bangkok. Padahal bedanya cuma ada subway train atau tidak! Sebel banget nggak sih?

Bangsa Jepang punya segudang semangat untuk maju. Di pelajaran sejarah jaman SD baheula, atau entah sekarang tetap diajarkan atau tidak, bahwa Jepang adalah negara yang besarnya hanya 1/3 Indonesia. Alamnya tidak sesubur Indonesia. Gempa buminya sering terjadi. Istilah tsunami pun berasalh dari bahasa Jepang itu sendiri. Pasti karena mereka mengalami hal itu lebih sering daripada Indonesia.

Selama tinggal 10 tahun di Jepang, aku melek mengapa orang Jepang itu penuh semangat. Bukan hanya karena hal-hal yang aku sampaikan di atas, tapi juga karena mereka punya musim dingin yang membuat mereka berjuang. Berjuang untuk tetap hidup di tengah hawa dingin. Di situ lahir inovasi sandang, papan, dan pangan.

Aku berdoa semoga teman-teman yang membaca blogku ini, diberi kesempatan oleh Allah swt bisa main ke Jepang. Kalian akan lihat bahwa inovasi hidup itu semuanya ada di sana. Misalnya asinan buah. Kalau di Bogor, asinan buah sejak aku kecil sampai sekarang ya begitu-begitu saja, di Jepang asinan itu bisa jadi tiap tahun berubah bentuk, rasa dan penampilan.

Kita masih saja jalan di tempat.

Jepang maju karena rakyatnya sepikiran. Kita di sini maju sendiri-sendiri.

Aku coba kasih contoh ya. Tahun 2003-an, Jepang dan Korea jadi tuan rumah penyelenggaraan World Cup Soccer (sorry kalau salah tulis, abis nggak hobi bola). Sebelum terpilih jadi tuan rumah, sepak bola di Jepang tidak banyak diminati. Tapi setelah jadi tuan rumah, dan tim nasional Jepang ikut bertanding, aku lihat siapa pun di Jepang berusaha mendukung timnya sepenuh hati. Ada yang jadi volunteer commitee, para nenek dan kakek rajin nonton tayangan pertandingan sebulan penuh, dan paling mencengangkan ketika tim Jepang masuk ke babak final. Bagi orang Jepang, sepakbola bukan olahraga bangsa mereka. Tahu dong sumo dan baseball merajai kancah olahraga mereka. Semuanya jadi berubah ketika banyak karyawan kantoran yang meminta cuti dari kantornya hanya karena ingin mendukung langsung tim Jepang di babak final. Dan tidak tanggung-tanggung, sampai tersiar berita ada satu kantor yang cuti masal untuk itu.

10 tahun tinggal di negeri satu, satu kata yang bisa kuwakilkan untuk menggambarkan orang jepang. Yakni, SERIUS!

SERIUS membangun negeri mereka.

SERIUS dalam bekerja.

SERIUS dalam tiap inci gerak mereka.

JADI mereka paling anti dengan istilah “KIRA-KIRA”

Aku sih nggak mau jadi rakyat ‘kira-kira’. KAMU?Image

Foto ini nggak ada hubungannya dengan judul. Cuma kenang-kenangan anakku Tiara (berleging pink) yang ikutan shooting acara MAKAN BESAR

RASA SEPI DI LUAR NEGERI

Perasaan sepi tinggal di luar negeri ternyata bukan monopoli diriku saja. Setidaknya itu yang pernah kurasakan ketika masih tinggal di Jepang (1997-2009).

Mulai dari jaman single (199-2004), aku merasa terkucilkan oleh teman-teman sebangsa. Tidak semuanya sih, tapi aku tahu diri. Terkucilkan oleh karena beberapa hal. Misalnya, jika kebanyakan teman-teman seperantauan punya waktu libur di akhir pekan, aku malah masuk kerja (part-time di Restorant & Bakery). Lama kelamaan ya tersingkir juga. Atau karena aku bekerja di restoran sendirian, tidak ada teman sebangsa seperti di tempat lain yang justru bergerombolan. Satu hal lagi yang paling penting kurasakan adalah karena aku bermobil dan lebih banyak berteman dengan orang Jepang.

Lalu setelah menikah dan memiliki anak, bukan berarti punya teman banyak sesama ibu yang beranak. Boro-boro! Kebanyakan ibu-ibu Indonesia bekerja part-time, atau bersekolah di jam-jam aku malah bengong di rumah menemani para buah hatiku. Atau ketika aku berusaha membukan ‘channel’ dengan para ibu Jepang, tetangga yang biasanya berkumpul setiap rabu pagi, aku tetap tidak bisa lebur dengan mereka.

Perasaan terkucil itu ternyata kini dirasakan seorang teman berkebangsaan Jepang. Suaminya bekerja di Indonesia. Temanku ini berencana untuk menetap di Indonesia menemani suaminya. Tapi siapa yang menyangka jalan hidup seseorang yang ‘baik hati’ malah penuh aral melintang.

Berkenalan dengan Yumiko-san (bukan nama asli), bagiku seperti bertemu teman lama. Nggak perlu banyak basa-basi, aku rasa kami langsung cocok. Meski pun usia kami terpaut banyak. Aku baru 39, dan dia mungkin sudah 50-an.

Yang menautkan kami hanyalah bahasa Jepang. Selain itu suaminya adalah muridku. Tapi itu bukan berarti segalanya.

Yumiko-san bisa menjadi dirinya di depanku. Mau marah kek, mau ketawa kek, bebas. Aku pun begitu. Bahkan kami pernah tertawa-tawa sampai ‘terguling-guling’ sangking lucunya. Padahal kami intens bertemu baru 1 atau 2 kali.

Tapi sedihnya, tiba-tiba dia bilang tidak jadi tinggal terus di Indonesia. Atasan suaminya ternyata tidak suka dengannya! Aneh memang. Kehadirannya di Indonesia sering menjadikan ‘taring dan tanduk’ si bos keluar. Tega banget ya! Apa coba urusan istri staf si bos dengan si bos itu sendiri? Harusnya nggak ada dong! Kecuali kalau si suami bermasalah.

Si bos yang tidak menyukainya dengan alasan yang tak jelas, akhirnya membuat keputusan yang membuatku geleng-geleng kepala. Dia dan suaminya dimutasikan kembali ke Jepang.

Lucunya, aku kenal dengan bos si suaminya itu!

Lebih sedihnya lagi, karena ketidaksukaan si bos (power harrasment) kepada temanku ini, membuat para warga Japanese di sekitarnya pun ikut-ikutan menjaga jarak. Dia tidak boleh ikut klub orang Jepang, karena pakai visa turis (bukan visa menetap). Dia dikucilkan.

Yang membuatku salut adalah pola berpikirnya yang tidak ambil pusing dengan kondisi ini. Bahkan dia memberanikan diri naik turun angkot kemana pun dia suka. Ini terpaksa dia lakukan karena si bos tidak memperbolehkan suaminya pakai mobil kantor untuk mengantar jemput si istri selama datang ke Indonesia. Padahal ya, si bos melarang para karyawan Japanesenya untuk naik angkot apalagi taksi. Kata mereka, itu perbuatan yang mengundang bahaya.

BAHAYA dari mana ya?

Mungkin kecocokkanku dengannya tidak lebih dari pola pikir kami yang cuek, itu sama.

Besok dia minta diantar ke rumah sakit karena demam tinggi. Padahal dia harus konsentrasi mengemas-ngemas barang untuk kembali ke Jepang di penghujung bulan maret ini.

RASA SEPI DI LUAR NEGERI itu ternyata bukan monopoli diriku.

Apa yang bisa kulakukan untuknya adalah menemaninya. Menjadi teman yang baik baginya. Agar dia tak perlu merasa kecil hati karena dimutasikan tiba-tiba.

 

Ini Dia Wajah Bangkok (The Journey of Bangkok, part-4)

Halo teman-teman, aku datang lagi untuk berbagi cerita.

Kalau di part-1 sampai 3 aku sudah menceritakan kronologis berangkat dari Jakarta sampai tiba di Bangkok dengan segala pernak-pernik kehidupan (jyee), maka di part-4 ini aku akan perlihatkan kepada teman-teman wajah kota Bangkok di pagi hari.

INI DIA!

Inilah wajah pagi Bangkom di jalan Pichtburry yang ramai

Macetnya sama kok, seperti Jakarta di pagi hari.

Eh ntar dulu, sepertinya tetap ada yang beda deh. *ketuk-ketuk meja sambil mikir.

1. Trotoar yang luas, jadi nyaman untuk berjalan kaki. *incarannya back packer dan turis asing nih!

2. PKL alias pedagang kaki lima berjualan dengan aman dan sentosa, tidak perlu diuber-uber sapol PP. Ini kaitannya dengan luas trotoar tadi. Jadi nggak mesti desak-desakan atau plotot-plototan dengan pengguna jalan.

3. Jembatan penyebrangan yang berfungsi dengan baik. Coba deh lihat foto di bawah ini. Bersih kan? Aku tidak menemukan pengemis atau PKL keliling yang berjajar menguasai setengah dari luas jembatan (seperti di Jakarta). Bukannya tidak ada pengemis, ada saja sih satu atau dua orang, tapi jembatan ini dijaga dan dirawat oleh warganya. Mereka tahu betul fungsi jembatan ini. Kalau malam, di bagian penutup jembatan dililit oleh lampu kelap-kelip (seperti lampu natal). Seru banget. Dan menambah indahnya kota ini.

Mungkin teman-teman sudah baca part-2 yang aku ceritakan tentang pemandangan dari udara (pesawat). Bahwa, Thailand yang aku lewati sangat bling-bling dari langit. Mungkin lampu-lampu itu yang jadi penyedap pemadangan kota dilihat dari langit.

jadi model di jembatan penyebrangan

jadi model di jembatan penyebrangan

Hebatnya lagi, ada beberapa jembatan penyebrangan yang di atas diberi besi PEMBATAS. Untuk yang dari depan atau sebaliknya, jadi mereka nggak usah desak-desakan, sebel-sebelan karena kena tabrak di bahu, tapi bisa luwes memakai ruas jembatan. Bayangkan! Begitu cara pemerintahnya mendidik warga untuk saling sabar dan tidak egois dalam bermasyarakat. PERLU DICONTOH oleh pemerintah kita.

sampah

sampah

1st Morning in Bangkok (The Journey of Thailand-3)

Nih foto makanan pembuka yang aku pilih. sebelum makan berat, yukk makan buah dan sayur mayur mentah (salad)

Nih foto makanan pembuka yang aku pilih. sebelum makan berat, yukk makan buah dan sayur mayur mentah (salad)

Sawadeeka, teman-teman.

Ini hari pertama kami di Bangkok. Perasaan yang paling membuatku was-was adalah kondisi 3 buah cinta kami yang ditinggal di Bandung. Maklum, dalam sejarah beranak-pinak, menitipkan mereka ke rumah Nenek, atau ditinggal di rumah sama khadimat kepercayaan kami, sudah sering juga. Tapi, biasanya salah satu dari kami-entah Ayah atau Ibu tetap mendampingi mereka. Itu pun sekian jam or maksimal 3 hari. Baru kali inilah mereka benar-benar tidak ditemani Ayah dan Ibu. Hanya doa dan dzikir yang terus kupanjatkan sejak berangkat meninggalkan rumah hingga tiba di Bangkok, dan begitu seterusnya. Termasuk ketika sarapan pagi. Aku tanyakan dulu kondisi anak-anak lewat Whatsapp dengan si sulung. Jawabannya, fine-fine saja. Alhamdulillah.

Bukannya mau lari dari tanggung jawab sebagai orangtua, atau karena ingin senang-senang berdua suami, atau mau honey moon part-2 sama suami, tapi ada alasan yang bikin anak-anak ditinggal. Sederhana saja, kali ini aku nemenin Ayahnya anak-anak yang akan presentasi di sebuah konferensi yang tempatnya di Bangkok sini. Tanggal booking pesawat kami dari tgl 18-26 Desember. Nah, aku pikir tanggal-tanggal segitu dua anak kami yang ke-1 dan ke-2 masih sekolah. Ealah, nggak tahunya baru dapat bocoran guru bahwa mereka sudah diliburkan sejak tanggal 19 Desember. Si sulung sempat memaksa ikut, tapi baru ingat paspor doi sudah kadaluarsa belum sempat diurusin. Paspor di tengah sih nggak masalah, belum expired, tapi kan bisa timbul ‘perang saudara’ kalau si tengah doang yang diajak. Sedangkan si bungsu, asli belum dibuatin. Rencananya diurusin bareng punya si sulung nanti sepulang dari Thailand.

Kesimpulannya: nggak ada yang ikut, tapi ntar boleh request oleh-oleh yang diminta. Si sulung minta bando yang lucu, si tengah minta gelang (wadoh anak cewek gini kali ya) dan si bungsu dikasih mainan aja (kata si sulung dan si bungsu). Uh-uh, anak-anak Bunda ini memang saling menyayangi.

SARAPAN PAGI

Ini makanan penyelamat

Ini makanan penyelamat

Kita bicara masalah makanan dong. Berhubung baru pertama kali datang ke Bangkok, yang paling kami khawatirkan soal apa lagi kalau bukan makanan HALAL. Yang aman adalah ketika booking hotel, masukin booking breakfastnya sekalian. Lumayan buat nyelamatin perut di hari pertama.

Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi…

Exactly! Udah cantik dong di hari pertama di Bangkok. Dan nyummy…masuk restorannya mereka. Untung menu hari ini ada menu penyelamat. Eng ing eng, MISO-SUP. Sup berbahan dasar kedelei yang haluuuus banget (jangan bayangkan tauco dong), rasanya hambar kalau untuk ukuran orang Indonesia. Campurannya hanya tahu sutra yang dipotong kotak kecil-kecil dan irisan bawang daun.Tapi kalau mau sedikit fancy, bolehlah masukkan kerang-kerangan.

Yak???

Hus! Yummy lagi. Sehat dan jauh dari santan-santanan. Aku sudah terbiasa menyantap sup ini sejak tahun 1996. Bayangin! Setahun sebelum tinggal di Jepang aku udah kenal ama Miso-Sup loooh. Sup ini bisa bikin badan segar lagi selelah apa pun. SUWER! Udah 16 tahun tetap suka ama masakan yang satu ini. Makanya tetap cas cis cus bahasa Jepang. Nah, kalau mau bisa sekolah or berangkat ke Jepang, kayaknya harus coba sup ini dulu deh… *sugesti.

semuaaanya dicoba

semuaaanya dicoba

Nah, foto yang di atas adalah sarapan pilihan suamiku. Cornflake bersusu, kentang goreng, ikan goreng, omelet, roti bakar dan roti bakar diberi madu. Maklum, cowok gitu loh. Volume perutnya beda dong sama aku yang imut kiyut. Kalau aku makan lebih mikir urutan sayur dan buah mentah (nggak dijus, nggak direbus) sebelum makan (pan ngikutin sunaah Rasul saw plus anjuran dokter), sementara suami tercinta punya prinsip ‘semua harus dicoba dan…banyak!!” *senyam senyum.

Iiih, kok dari tadi foto-fotonya makanan melulu sih? Kan gitu ya. Eits jangan protes dong. Suka-suka ane, dong. Ahak-ahak-ahak. Kalau travelling itu yang dibawa bukan oleh-oleh cerita tentang spot wisata saja, tapi masalah makanan penting loh! Catat: PENTING! Justru ini yang jarang dimuat dibuku-buku travelling, meski pun itu sekelasnya TRINITY.—>nggak tahu? pingsan.

Lanjuttt…

Breakfastnya outdoor dong

Breakfastnya outdoor dong

Berhubung hari pertama, semua yang ada di hotel masih membuatku terpukau kau saja (tapi bukan sakau).  Aku memang tipe pemberi seruan WOW Keren yang royal dan baik hati. Buktinya pas mau masuk ke resto, ternyata baru tahu kalau kolam renang hotel ini ada di dekat resto. WOW nggak tuh? Semalam nyari, ngubek-ngubek hotel karena pengen berenang. Tapi, tetap aja nggak nemu. Baru deh pagi-pagi pas mau masuk ke resto, eng ing eng ternyata ada! Norak banget ya? Dikiiiit.

Kolam renangnya cuma atu biji…hihihi. Masih kalah ama hotel kelas 3 di Legian Bali, yang punya kolam renang panjang dan luas.

Silahkan dinikmati deh suasana di sekitar Restoranya Hotel Center Point Pitchburry 15 Soi-1, Bangkok (depan-depan ama Indonesia Embassy).

Kolam renang atu-atunya di Hotel Center Point- Pitchbury 15 Soi 1, Bangkok

Kolam renang atu-atunya di Hotel Center Point- Pitchbury 15 Soi 1, Bangkok

pintu masuk ke restoran

pintu masuk ke restoran

Diky Mudhakir, hubby tercinta

Diky Mudhakir, hubby tercinta

Eng ing eng, kini sampailah kita pada appetizer alias makanan penutup.

Yuk dilihat-dilihat penampakan diriku yang imut kiyut dipagi hari dengan langit Bangkok yang biru cerah dan sedikit angin gelebuk (salah makan di outdoor).

Oya aku hampir lupa bilang, kalau di hotel ini ada ruang untuk bermain anak-anak. Lumayan luas dan pasti membuat anak-anak happy *obat stres buat anak-anak karena harus ngikutin mommy dan daddy mereka yang kalap belanja di Bangkok

ternyata hotel ini nyediain surga kecil buat anak-anak

ternyata hotel ini nyediain surga kecil buat anak-anak

Oke deh, kita sampai di penghujung acara makan. Kalau makan terus kapan jalan-jalannya dong. Ya nggak? ya nggak?

appetizer (ini gabungan suami dan aku loh)

appetizer (ini gabungan suami dan aku loh)

Have a nice morning everybodeh!

uhuy, ada yang manis kiyut memperlihatkan makanan-makanannya

Jyee, gaya dulu dong sesudah kenyang dan mau jalan-jalan

Jyee, gaya dulu dong sesudah kenyang dan mau jalan-jalan

Tutup dan Buka Tahun dengan novel best-seller Jepang -MOSHI DORA

Assalamu’alaykum wr wb.

Hi semuanya.

Baru saja tahun baru 2013 masuk dalam kehidupan kita ya. Tau-tau sudah tanggal 3 lagi ya! Selalu seperti itu. Tak terasa, padahal bunyi dentuman kembang api masih terngiang-ngiang di telinga. Pasti dong…Kesan yang tak pernah terlupakan. Bagaimana mau lupa? Baru juga kembang api tahun 2012 meletup-letup, sekarang kembang api 2013 sudah membahana. Apalagi kemarin ini, aku bisa menikmati kembang api tahun baru live lewat jendela dan pintu balkon. Mana gratis pula! Mantaaaap.

Btw, apa yang paling berkesan bagimu selama tahun 2012? Atau mungkin sudah ada kesan di awal-awal tahun 2013?

Bagiku ada banget!

(dicopi dari http://www.jcafe24.net/index.php?topic=21026.0)

Gimana nggak, 2 bulan terakhir ini aku harus bertahan di depan komputer. Gara-garanya sok-sokan nerima order terjemahan sebuah novel best seller. Judulnya Moshi Koukou Yakyuu no Joushi Maneja- ga Dorakka-no ‘Manajimento’ wo Yondara. Atau disingkat “MOSHI DORA”.

Yang tidak tahu Moshi Dora, silahkan cek di Youtube dengan keyword itu. Akan keluar beberapa sampel film Moshi Dora. Film? Ya! Moshi Dora juga sudah difilmkan, sudah dinovelkan, sudah disinetronkan. Bahkan, kata seorang kenalan berkebangsaan Jepang, Moshi Dora pun sudah dikomikkan.

Sangking best-sellernya tuuuhhh…

Dan aku merasa terhormat untuk menerjemahkan novel ini.

Tapi ya…ternyata susaaah banget. Terseok-seok. Novel ini ceritanya tentang seorang anak perempuan yang masih pakai seragam putih abu-abu alias anak SMA, yang terjun jadi manajer dari tim baseball di sekolahnya sendiri. Eits, warna seragam anak SMA di Jepang nggak putih abu-abu sih, ini cuma untuk membuat pembaca blog ini jadi mengerti maksud ceritaku.

Isi novel ini tersusun dari Prolog, Bab1-8, terakhir ditutup  dengan Epilog dan Catatan Akhir Penulis.

Dari Prolog sampai Bab-4, citeeeeekkkk, gitu menurutku. Santai, bisa picing mata nerjemahinnya. Makanya leha-leha banget. Tapi, pas masuk Bab-5, mulai deh kayak orang mesti ngegowes ke jalan menanjak. Terus nanjak, nanjak, nanjak, ampe mikir ini mau sampai kapan???!!! (tuh tanda tanya dan serunya sampai 3 kali).

Bukan hanya sampai di situ, sangking pusingnya ampe sempat jadi orang ‘aneh’ di rumah sendiri. Uring-uringan, kesal nggak menentu, nggak mood masak (alah! ini mah alasan buat ngeles dari tugas jadi seorang istri dan ibu rumah tangga…hihihi). Tapi untungnya tetap berusaha dekat sama anak-anak dan suami.

Nah tugas sebagai ibu itu berat juga disamping jadi seorang penerjemah. Untung freelance, kalau permanent, yang ada tiap hari stres kali ya. *wink

Kenapa sih sampai segitunya aku ini?

Mulai Bab-5, sudah mulai memakai istilah-istilah baseball. Loh kok baseball? Ya iyalah, ini novel bercerita tentang si manajer SMA yang mengurusi tim baseball sekolahnya. Iiih, kan udah disebut-sebut di bagian awal tulisan ya.

Aku masih bersyukur dan beruntung banget karena sekarang aku punya murid Japanese yang rajin datang tiap hari Sabtu buat les bahasa Indonesia kepadaku. Dan doi ngerti banget sama Baseball. Lucky me.

Tapi nggak cuma begitu lalu aku terbebas dari lubang kesulitan ini. Yang jadi kendala, di dunia olahraga Indonesia, ternyata baseball tidak familiar. Yang familiar adalah softball. Ealah, mau nggak mau aku perdalam apa sih istilah-istilah yang dipahami di Indonesia or dunia internasional yang berkaitan dengan basebal.

Akhirnya, selain kamus Kanji, google terjemahan, website terjemahan sepeti ALC, Weblio, dan Yahoo Japan jadi teman-teman setiaku selama 2 bulan. Lalu untuk memperdalam tentang baseball, aku rajin nonton Youtube. Tentu saja nontong pertandingan baseball yang ada istilah-istilah Jepangnya. Ternyata membantu banget loh.

Caranya gimana?

tinggal masuk ke website-nya Youtube. Ketik word yang sedang dicari, misalnya ‘okuri banto/送りバント), maka akan keluar beberapa tayangan baseball yang berkaitan dengan okuri banto tadi.

Wuiiih, akhirnya kelar juga nih terjemahan pas tanggal 1 Januari 2013.

Kuserahkan sudah hasil terjemahan kepada penerbit, tinggal mereka edit.

Nggak sabar hasilnya bagaimana.