Novel Anak-2 “DION dan KEAJAIBAN di CELEMEK MOMY

Bab-2.  LACI YANG PENUH HARTA KARUN

Mobil jemputan tiba di sebelah kiri gerbang sekolah. Dion, Robi, Jimi, dan beberapa anak lainnya turun berhamburan. Pak Jito, supir mereka setia membukakan pintu mobil.

Hari begitu cerah ketika mereka berbaris masuk ke dalam kelas. Bu Nina yang cantik sudah menunggu di dalam kelas.

“Weisss…” Dion duduk di bangkunya sambil mendesis. Ini kebiasaan Dion, apa-apa pasti mendesis.

“Aduuh apa ini?” Tiba-tiba Andini, murid yang duduk di samping Dion berteriak.

“Iiih, amit-amit, jijiiik.” Andiri menjerit lagi. Kontan saja seluruh isi kelas melihat ke arah gadis manis yang sering memakai asesoris rambut. Hari ini Andini memakai ikat rambut yang imut sekali. Katanya, oleh-oleh dari Bundanya yang baru kembali dari Singapura.

“Hi-hi-hi.” Dion malah tertawa.

“Kamu ya!” Andini mendelik ke arah Dion.

“Ih, bukan lagi…hi-hi-hi.” Si ganteng mantan kaver boy majalah anak ini berusaha mengelak, tapi dibarengi dengan tawa mengikik. Siapa yang percaya?

“Iya, ini pasti kamu. Siapa lagi yang punya kebiasaan jorok seperti ini selain kamu.” Gadis manis yang baru pindah dari Banjarmasin ini benar-benar marah.

Bu Nina sudah tiba di dekat mereka. “Ada apa Dini?” tanyanya lembut.

“Lihat, Bu.” Andini menunjuk ke laci meja belajarnya,

Bu Nina membungkuk, lalu matanya diarahkan ke dalam laci. “Masya Allah…apa ini?”

Bu Nina mulai memasukkan tangannya ke dalam laci, tiba-tiba “aduh! iiih, apa ini?”

Sepuluh menit kemudian, Pak Joko, petugas kebersihan sekolah sudah tergopoh-gopoh membawa plastik hitam. Tangan kanannya sudah terbungkus plastik ukuran kecil. Sepertinya bekas belanja di warung.

Satu per satu “sesuatu” yang tersembunyi di dalam laci dikeluarkan. Ada beberapa batu berukuran kecil, menengah dan besar. Tapi…batu-batu itu berlumut! Kemudian, ada lagi aneka daun dengan bentuk yang aneh-aneh. Entah dari mana asalnya. Yang mengerikan, daun-daun itu berselimut lendir yang super lengket.

“Ya ampuun, apa ini?” teriak Pak Joko. “Ti…ti…ti…kusss!” Pak Joko lari terbirit-birit keluar kelas. Murid-murid tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah penjaga sekolah itu. Bahkan Robi dan Jimi memegang perut mereka dan tertawa sampai badan mereka terbungkuk-bungkuk.

sumber: http://download.gambar.com“TIKUS?” Bu Nina memberanikan diri mengoreh isi laci terakhir.

Benar saja, ada seekor tikus. Perutnya buncit, matanya terbelakak tetapi sepertinya sudah tidak bernyawa.

“Siapa ini yang melakukannya? Coba ke meja Ibu. Ibu tunggu.” Bu Nina berkata sangat tenang namun tegas. Wajahnya menahan rasa kaget.

Lima menit tak seorang anak pun maju. Sepuluh menit pun tidak.

“Hmm…tidak ada yang berbuat ya? Waah, sayang sekali kalau begitu. Kalau semua benda-benda ini penting, berarti harus disimpan di tempat yang lebih baik. Tapi kalau tidak, ya sudah Ibu akan buang.”

“TIDAAAK…” Tiba-tiba sebuah suara melengking.

Semua mata memandang ke arah…DION!

Bu Nina tersenyum. Tetapi Andini kesal bukan kepalang. “Tuuh, kan, kamu yang nakal.”

Dion maju perlahan. “Ini punya saya, Bu.”

“Untuk apa ini?” tanya Bu Nina.

“Ini harta karunku, Bu” jawab Dion.

“Harta karun bagaimana?” tanya Bu Nina. Kali ini dia sudah tidak kaget lagi.

“Hmm…batu berlumut, aku ambil karena aku suka. Lucu saja melihat warna hijau-hijau di seputar batu.”

“Kalau daun aneka bentuk berlendir ini?”

“Aku main ke belakang rumahku, di sana ada hutan kecil, Bu. Lucu-lucu deh bentuk daun yang jatuh ke tanah. Terus, ada banyak tanaman-tanaman yang aku tidak tahu namanya. Tapi daunnya lebaaaaaar sekali. Lalu aku coba patahkan batangnya. Lembut dan dari dalamnya ada cairan! Aku oleskan ke daun-daun ini.”

“Ooo…” Bu Nina mengangguk-angguk.

“Terus tikus ini bagaimana?”

Tiba-tiba saja Dion menangis. “Tikus ini aku temukan di parit dekat sekolah, Bu. Kayaknya mau tenggelam. Tikus ini terus berusaha tidak tenggelam, aku tidak tega melihatnya. Tapi…tapi…aku nggak berani masuk ke parit yang kotor banget. Airnya hitam, Bu. Kata Momy, tidak boleh masuk parit yang kotor, nanti aku dimakan sama paritnya.”

“Lalu…?” Bu Nina makin tertarik mendengar cerita Dion.

“AKu berusaha menolong tikus ini. Kebetulan ada saringan bekas memancing yang tergeletak di dekat parit. Aku ambil. Sebenarnya saringan itu dah bocor, Bu. Tapi si tikus ini badannya gemuk, bisa nyangkut.”

“Syukurlah. Tapi…kok, ini sudah mati? tanya Bu Nina.

“Soalnya aku telat, Bu. Dia udah keburu meninggal…”

“Buat apa kamu simpan, Dion?”

“Aku ingin minta maaf karena membuat dia mati, Bu.”

Bu Nina membelai kepala Dion. “Kamu anak baik. Nanti ketika jam istirahat, kita kuburkan sama-sama ya di belakang sekolah. “

Mata Dion yang redup seketika menjadi berbinar-binar. Dia berjanji akan merawat kuburan tikus gemuk nanti.

-bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s